Rugi Rp18,3 Triliun, Airbus: Krisis Belum Berakhir

Jum'at 19 Februari 2021 13:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 320 2364790 rugi-rp18-3-triliun-airbus-krisis-belum-berakhir-Pa7t2DsFfj.jpg Airbus Merugi Rp18,3 Triliun. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Airbus merugi 1,1 miliar euro (USD1,3 miliar atau setara Rp18,3 triliun) di tengah kemerosotan industri perjalanan udara global karena pandemi. Meski demikian, produsen pesawat Eropa itu berharap dapat menjual ratusan pesawatnya tahun ini dan memetik keuntungan.

CEO Airbus Guillaume Faury mengakui, kinerja perusahaan tahun lalu jauh dari harapan' dan harus terus-menerus beradaptasi ketika maskapai-maskapai penerbangan terpaksa mengistirahatkan pesawat-pesawat atau gulung tikar karena pembatasan-pembatasan perjalanan akibat pandemi virus corona.

Baca Juga: Airbus Bakal Lakukan Pemutusan Hubungan Kerja?

Airbus mengumumkan Juni lalu bahwa perusahaan iterpaksa akan memangkas 15.000 pekerjaan, sebagian besar di Perancis dan Jerman.

“Krisis belum berakhir. Itu sepertinya akan berlanjut sepanjang tahun ini,'' katanya, dilansir dari VOA Indonesia, Jumat (19/2/2021).

Baca Juga: Airbus Bayar Denda Hampir USD4 Miliar karena Kasus Suap

Airbus memperkirakan industri penerbangan tidak akan pulih ke tingkat prapandemi hingga 2023-2025.

Penjualan Airbus turun menjadi 49,9 miliar euro dari 70 miliar euro tahun sebelumnya. Perusahaan juga melaporkan kerugian pada 2019 karena penyelesaian kasus korupsi multinasional besar-besaran.

Airbus menjual 566 pesawat tahun lalu dan berharap dapat memasarkannya dalam jumlah yang sama pada tahun ini, kata perusahaan itu. Airbus hanya berhasil menerima 268 pesanan pesawat komersial tahun lalu, turun dari 768 pada tahun sebelumnya.

Meski membukukan angka penjualan yang jauh di bawah rata-rata pada keadaan normal, prestasi yang dibukukan Airbus lebih baik dari saingannya dari AS, Boeing, yang sedang berusaha bangkit dari keterpurukannya.

Boeing Co mendapat lonjakan pesanan dan pengiriman pesawat baru pada Desember, tetapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan bisnisnya pada tahun itu. Perusahaan itu terus menerus mengalami pembatalan pemesanan untuk jet 737 Max-nya, yang sempat dilarang terbang selama 21 bulan setelah kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 orang secara keseluruhan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini