Biaya Kereta Cepat Jakarta Bandung Bengkak, Porsi Saham Indonesia Tak Lagi 60%?

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 14 April 2021 18:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 14 320 2394724 biaya-kereta-cepat-jakarta-bandung-bengkak-porsi-saham-indonesia-tak-lagi-60-A9PYl00pvs.jpg Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk berencana untuk mengurangi porsi kepemilikan sahamnya pada kereta cepat Jakarta-Bandung. Sehingga porsi Indonesia dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini bisa lebih kecil dari saat ini.

Adapun saat ini porsi pemerintah di perusahaan patungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) adalah 60%. Sedangkan porsi saham China Railway International adalah 40%.

Dari porsi saham pemerintah 60% di KCIC, porsi saham Wika mencapai 38%. Selain Wika, pemegang saham PSBI adalah PT Kereta Api Indonesia sebesar 25%, PT Perkebunan Nusantara VIII sebesar 25% dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebesar 12%.

Baca Juga: Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak 20%, Tambahannya dari Mana? 

Dari 60% saham PSBI, porsi dari Wika mencapai 38%. Selain Wika, pemegang saham PSBI adalah PT Kereta Api Indonesia sebesar 25%, PT Perkebunan Nusantara VIII sebesar 25% dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sebesar 12%.

Direktur Utama Wijaya Karya atau WIKA Agung Budi Waskito mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan negosiasi terkait dengan porsi Indonesia agar bisa lebih kecil. Negosiasi terus dilakukan dengan pihak dari China.

“Kita sedang melakukan negosiasi dengan pihak China agar porsi Indonesia bisa lebih kecil daripada 60%,” ujarnya dalam acara Webinar, Rabu (14/4/2021).

Negosiasi tersebut dilakukan karena adanya pembengkakan pada pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Meskipun saat ini masih dihitung, pembengkakan biaya kereta cepat Jakarta-Bandung diperkirakan mencapai 20%.

“Jadi memang di Kereta Cepat tentunya akan terjadi cost of run yang saat ini sedang di hitung oleh teman-teman KCIC. Berapa besar, tentunya kita akan menunggu berapa besar, tapi yang saya dengar memang kurang lebih hampir 20% tapi sedang dihitung,” jelasnya.

Jika nantinya pengurangan porsi tersebut berhasil maka akan sangat membantu perseroan. Karena biaya pembengkakan yang terjadi akan ditanggung oleh China.

“Sehingga harapan kami memang porsi daripada Indonesia ini lebih kecil daripada yang ada sekarang sehingga cost of run yang ada ditanggung oleh pemerintah sana, itu yang sedang kita usahakan,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini