Atasi Banjir Jakarta, Menko Luhut: Perlu Integrasi Hulu hingga Hilir

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 05 Mei 2021 16:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 320 2406086 atasi-banjir-jakarta-menko-luhut-perlu-integrasi-hulu-hingga-hilir-7CPIkLfI4T.jpg Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (Foto: Kemenko Marves)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan penanganan banjir Jakarta memerlukan itnegrasi di hulu, tengah dan hilir. Maka dari itu, perlunya sistem bendungan yang baik.

Hal ini dikatakannya saat melakukan kunnjungan kerja ke Bendungan Ciawi (Cipayung) dan Bendungan Sukamahi di hulu Sungai Ciliwung pada Rabu (5/5/2021). Dalam kunjungan itu Menko Luhut didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Anies Baswedan dan beberapa pejabat lainnya.

 Baca juga: Anies Minta Luhut Bantu Atasi Banjir Jakarta

"Jadi penanganan banjir Jakarta memerlukan integrasi di hulu, tengah, dan hilir," ujar dia.

Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi merupakan sister dam bendungan kering atau dry dam yang pertama kali dibangun di Indonesia. Berbeda dengan bendungan pada umumnya, bendungan ini difungsikan sebagai penahan air atau pengendali banjir Jakarta.

 Baca juga: Kejar Ekonomi Tumbuh 5%, Menko Luhut: Banyak Orang Pintar di Negeri Ini

Dibangun tanpa turbin atau pintu air, bendungan baru akan digenangi air pada musim hujan dan kering selama musim kemarau.

"Ibaratnya dia nahan air dengan lubang yang lebih kecil atau dialirkan melalui bottleneck supaya bisa menahan air dan mengurangi banjir," sebut Menteri PUPR Basuki.

Mengacu pada data rekapitulasi debit banjir periode ulang 50 tahunan, setelah pembangunan selesai kedua bendungan akan mampu mereduksi banjir sebesar 11,9 persen. Secara total, kapasitas tampung air adalah 7,73 juta m3 dan luas genangan 44,63 hektar sehingga diharapkan dapat mengurangi banjir hingga 127,22 m3/detik.

"Kalau dibuat summary, sungai kita di Jakarta hanya memiliki daya tampung sebanyak 2.300 m3, tapi kalau cuaca sedang ekstrim debit air bisa mencapai 3.300 m3. Selisihnya mencapai 1.000 m3. Oleh karena itu, diperlukan penyelesaian masalah banjir dari tengah dan hilir," jelas Gubernur Anies.

Mengingat proyek ini memerlukan dukungan pemerintah untuk mengurangi run off debit air, seluruh pimpinan yang hadir sepakat untuk dilakukan pembuatan sumur resapan, seperti di daerah milik jalan (damija) sepanjang jalan tol supaya air tidak dialirkan secara langsung ke sungai, tetapi dibuat sumur resapan setiap 50 sampai 100 meter.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini