Miris! PMI di Malaysia Tak Punya Dokumen, Bakal Jadi Pengangguran

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Senin 10 Mei 2021 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 10 320 2408484 miris-pmi-di-malaysia-tak-punya-dokumen-bakal-jadi-pengangguran-uGWwTtDan5.jpg Ilustrasi pekerja (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Sejumlah pekerja migran asal Indonesia yang mengadu nasib di luar negeri kerap kali tersandung sebuah masalah. Alasannya, karena mereka tak memiliki dokumen yang sah.

Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan, pekerja migran Indonesia terbanyak berada di Malaysia dengan jumlah sekitar 2,3 juta pekerja. Kata dia, separuh lebih dari jumlah pekerja migran statusnya tidak berdokumen.

“Mereka pekerja harian lepas, bekerja mingguan juga, dan saya kira ini mereka menjadi kelompok yang paling terdampak karena lockdown itu membuat mereka kehilangan pekerjaan,” kata dia dalam acara Market Review IDX Channel, Senin (10/5/2021).

Baca juga: Menaker Terbitkan Aturan Jaminan Sosial Pekerja Migran Indonesia

Dia menambahkan, pekerja migran yang tidak berdokumen itu otomatis akan kehilangan pekerjaan karena tidak berstatus sebagai pekerja kontrak.

“Statusnya bisa digaji harian atau digaji mingguan. Dengan adanya lockdown, adanya pembatasan mobilitas, tentu mereka juga akan kesulitan menjangkau tempat kerjanya. Karena Malaysia pun misalnya dalam konteks ini menerapkan security-sasi untuk lockdown pendekatan keamanan,” kata Wahyu.

Dia menjelaskan, untuk pekerja migran yang berstatus sebagai pekerja kontrak terutama pekerja rumah tangga, walau tidak kehilangan pekerjaan tetapi beban pekerjaan bertambah.

“Adanya pembatasan mobilitas mereka kehilangan hak atas hari libur. Sementara beban kerja mereka itu makin bertambah. Misal, seluruh anggota keluarga majikannya ternyata juga menjalani WFH. Artinya, banyak request yang harus mereka terima dari keluarga majikan,” jelas dia.

Di sisi lain, dia menuturkan, pekerja kontrak yang paling terdampak adalah pekerja migran yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di kapal pesiar karena hampir 95% pekerja tersebut dipulangkan.

Selain itu, berdasarkan data BP2MI tahun 2020 menyatakan bahwa sekitar 40.000 pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai ABK kapal pesiar harus pulang ke kampung halaman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini