Dolar AS Kian Lesu Jelang Rilis Inflasi

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 12 Mei 2021 07:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 320 2409357 dolar-as-kian-lesu-jelang-rilis-inflasi-eMrS97V1MD.jpg Dolar Amerika Serikat. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Dolar AS menyentuh level terendah pada perdagangan Selasa waktu setempat. Dolar AS melemah menjelang rilis data harga konsumen AS, di mana para investor memprediksi akan terjadi kenaikan inflasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya ekspektasi inflasi mempengaruhi dolar AS karena investor berasumsi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap harga yang lebih tinggi. Belum lagi usai laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan minggu lalu memicu aksi jual yang meluas pada greenback.

Baca Juga: Dolar AS Kembali Tak Berdaya, Ini Penyebabnya

“Orang-orang takut bahwa Fed bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka katakan. Dan yang mereka katakan tidak akan menaikkan suku bunga, tetapi juga kami akan membiarkan inflasi berjalan," kata Kepala NatAlliance Securities, Andy Brenner, dilansir dari Reuters, Rabu (12/5/2021).

Terhadap sekeranjang rival utamanya, dolar AS melemah ke level 89,979 atau terendah sejak 25 Februari.

Baca Juga: Dolar Anjlok Akibat Data Pekerjaan AS di Luar Ekspektasi

"Bahkan jika kita melihat cetakan di atas ekspektasi besok, kemungkinan reli dolar yang kuat sangat berkurang oleh fakta bahwa jauh lebih sedikit pelaku pasar yang mengharapkan Fed untuk bereaksi terhadap angka itu dengan cara apa pun," katanya.

Menurut catatan Action Economics, melemahnya indeks dolar di bawah 90 tampaknya telah mendorong beberapa investor untuk menutup posisi pendek dolar karena mata uang utama kemudian mundur.

Mata uang yang berorientasi pada sumber daya, termasuk dolar Kanada, mengkonsolidasikan keuntungan karena reli harga komoditas meningkatkan daya tarik mereka. Dolar Kanada mencapai level tertinggi pada level USD1,209.

"Perekonomian berkinerja cukup kuat, sehingga mendukung ekspektasi untuk kenaikan Bank of Canada menjelang Fed," kata Karl Schamott.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini