China Minati Porang Indonesia, Eh Ada Saja Tantangannya

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 19 Mei 2021 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 19 320 2412391 china-minati-porang-indonesia-eh-ada-saja-tantangannya-p6ZiRvXz2q.jpg Porang Adalah Jenis Ubi yang Dicari Pasar Jepang hingga Korsel. (Foto: Okezone.com/Kementan)

JAKARTA - Kementerian Perdagangan mencatat produk dari tanaman porang kian diminati. Terlihat dari ekspor porang meningkat 23,35% yoy di 2020.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, selama 5 tahun berturut-turut dari 2016-2020, tren ekspornya mengalami peningkatan sebesar 40,19%. Bahkan, di tahun 2020, ekspor terbesarnya adalah ke China, diikuti dengan beberapa negara seperti Thailand dan Malaysia yang nilainya cukup besar.

"Kalau kita lihat, totalnya bisa mencapai 67,64%, atau USD 13,28 juta," ucap Jerry dalam Webinar Halal Bihalal KOPITU 2021 di Jakarta, Rabu (19/5/2021).

Baca Juga: Thailand Pesan 150 Ribu Kg Ikan Kembung Indonesia

Namun, karena pandemi Covid-19, ada catatan yakni HS Code spesifik untuk Porang. Salah satu yang menjadi perhatian adalah karena belum ada HS yang bisa mendapatkan penyesuaian ketika ekspor ke negara-negara seperti China. Akibatnya, para pelaku ekspor menggunakan 2 HS, yaitu HS12129990 dan HS 07144090.

"Jadi data ekspor porang kita masih sedikit mixed, tercampur dengan produk lain yang dalam tabel. HS Code ini meliputi tanaman umbi-umbian yang lain," terangnya.

Jerry mengatakan, ekspor porang berdasarkan negara tujuan terdapat 15 negara. 5 negara teratas adalah China, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Belanda.

"Ekspor porang kita banyak kenaikan sebenarnya dari sisi angka dan volume, dan salah satu provinsi penyumbang porang terbesar adalah di Jawa Timur, diikuti dengan Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan DKI Jakarta," tambah Jerry.

Baca Juga: Wamendag: Sumatera Utara Punya Banyak Potensi Ekspor

Hal ini menunjukkan bahwa potensi porang sebenarnya ada dan perlu dikapitalisasikan dan diutilisasikan secara maksimal kedepannya.

"Tapi tantangannya, kembali lagi, kita belum punya kode HS 8 digit khusus. Hambatan keduanya, sejak 1 Juni 2020, porang belum bisa masuk kesana karena belum ada dokumen risk assessment terkait food safety yang menjadi standar di China," ungkapnya.

Sampai saat ini, kata Jerry, baru ada 4 negara yang secara resmi memiliki direct export ke China, yaitu Belgia, Korea Utara, Myanmar, dan Jepang.

"Ini penting karena terkait bagaimana strategi kita mendapatkan kepastian, dan mendapatkan clearance bahwa produk kita secara keamanan dan kapasitasnya itu terverifikasi dari otoritas di sana. Sarang burung walet kita juga melalui seleksi produk yang ketat di Tiongkok," imbuhnya.

Progres untuk sarang burung walet pun sudah berjalan baik. Diharapkan, hal serupa juga terjadi untuk produk porang dengan adanya bahu membahu antara pemerintah, pengusaha, dan para stakeholders secara kontinyu.

"Upaya yang bisa kita lakukan adalah dengan menyusun risk assessment untuk disampaikan kepada otoritas China, dan yang kedua terkait jaminan mutu dan keamanan pangan serta kesepakatan dengan China untuk menggunakan HS Code yang sama-sama bisa digunakan, sehingga bisa memperlihatkan angka yang pasti, legal, dan valid terkait ekspor kita agar tidak tercampur dengan produk-produk lain," pungkas Jerry.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini