Dolar Menguat Merespons Kebijakan The Fed

Kamis 20 Mei 2021 07:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 320 2412686 dolar-menguat-merespons-kebijakan-the-fed-YGGSlRL9En.jpg Dolar AS (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA – Indeks dolar menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), menghentikan penurunan beruntun empat hari dan rebound dari level terendah multi-bulan setelah rilis risalah dari pertemuan kebijakan moneter terbaru Federal Resere membuka ruang untuk pembahasan tapering (pengurangan pembelian obligasi).

Dalam risalah tersebut, sejumlah anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Federal Reserve AS mengatakan bahwa jika pemulihan ekonomi terus mendapatkan momentum, akan tepat "di beberapa titik" untuk membahas pengetatan kebijakan akomodatifnya, memberikan dorongan pada greenback.

Baca Juga: Indeks Dolar AS Tergelincir karena Ancaman Inflasi Mereda

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang dunia, terakhir naik 0,52% pada 90,254, dilansir dari Antara, Kamis (20/5/2021).

Namun, risalah tersebut berasal dari pertemuan yang terjadi sebelum rilis data ekonomi utama, yang menunjukkan pelemahan lebih lanjut di pasar tenaga kerja dan lonjakan harga yang didorong oleh ketidakseimbangan penawaran/permintaan.

Baca Juga: Ekspektasi Inflasi Meroket buat Dolar Terjatuh

Sejak itu, Fed berulang kali menawarkan jaminan bahwa lonjakan harga-harga dalam waktu dekat tidak akan menyebabkan inflasi jangka panjang.

"The Fed umumnya menyanyi dari lembaran lagu yang sama, menyatakan bahwa inflasi akan bersifat sementara," tambah Gaffney. “Secara umum, mereka telah melakukan pekerjaan yang baik dalam menjaga front yang cukup bersatu.”

Dolar juga mendapat manfaat dari sentimen risk-off (penghindaran risiko) yang luas, yang membuat indeks saham utama AS merosot dan mata uang kripto anjlok.

"Ketika kami melihat pergerakan besar menjauh dari Bitcoin, itu adalah indikasi bahwa investor menjauh dari aset berisiko, dan itu menguntungkan dolar," kata Gaffney. Itu adalah indikasi pelarian ke tempat yang aman.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS mencapai tertinggi sesi setelah rilis risalah Fed.

Sementara itu, tekanan harga-harga dirasakan di tempat lain. Inflasi Inggris lebih dari dua kali lipat pada April menjadi 1,5% dari bulan sebelumnya, memicu kekhawatiran serupa atas inflasi jangka panjang. Pound Inggris turun 0,58% terhadap dolar menjadi 1,4106 dolar AS.

Kanada juga merilis data inflasi terbaru, yang menunjukkan harga konsumen melonjak ke tingkat tahunan 3,4%. Greenback menguat 0,64% terhadap dolar Kanada menjadi 1,214 dolar AS, tetapi masih melayang di dekat level terlemah sejak Mei 2015.

Euro berbalik arah setelah menyentuh level tertinggi terhadap dolar AS sejak awal Januari, jatuh 0,5% menjadi 1,2164 dolar AS. Terhadap yen Jepang, dolar naik 0,25% menjadi 109,26 yen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini