Keuangan AirAsia Seret, Maskapai Miliarder Tony Fernandes Cari Utang Rp8,6 Triliun

Hafid Fuad, Jurnalis · Selasa 01 Juni 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 320 2417952 keuangan-airasia-seret-maskapai-miliarder-tony-fernandes-cari-utang-rp8-6-triliun-uDIBPA3OPG.jpg AirAsia Cari Utang. (Foto: Okezone.com/AirAsia)

JAKARTA - AirAsia kini sedang sibuk mencari uang atau pendanaan hingga USD604,6 juta di tahun ini. Dana tersebut sangat dibutuhkan, karena kian menipisnya likuiditas akibat dampak negatif dari pandemi Covid-19.

Dilansir dari Forbes, Selasa (1/6/2021), rencananya perusahaan tersebut terpaksa berutang dan menjual sahamnya.

Maskapai yang dikendalikan oleh taipan Tony Fernandes tersebut melaporkan kinerja keuangan mereka yang terus merugi sepanjang tujuh kuartal berturut-turut. Ini dampak dari kebijakan larangan penerbangan serta isolasi total atau lockdown oleh pemerintah Malaysia.

Baca Juga: KNKT Pastikan Temuan Serpihan Benda Bukan Bangkai Pesawat Air Asia

Kebijakan tersebut dilakukan pemerintah demi menekan penyebaran covid19. Bila ditotal AirAsia Group sudah merugi 767,4 juta Ringgit Malaysia hingga kuartal pertama 2021 atau lebih rendah dibandingkan kerugian sebesar 803,8 juta Ringgit setahun yang lalu.

Sebelumnya di awal tahun ini AirAsia juga sudah menghimpun dana senilai 336 juta Ringgit melalui dua tranche penempatan saham swasta. Perusahaan tersebut juga tengah dalam pembicaraan dengan lembaga keuangan lain untuk terus mendapatkan tambahan dana. Ini seiring dengan rencana perpanjangan kontrak sewa pesawat yang sedang dikelola.

Baca Juga: KNKT Cek Bangkai Pesawat Diduga Milik AirAsia, Hasilnya?

Manajemen AirAsia juga sedang membahas potensi mitra potensial yang mau berinvestasi dalam segmen bisnis yang spesifik milik perusahaan.

"Ada beragam penggalangan dana yang kini diupayakan AirAsia. Harapannya akan memiliki likuiditas yang cukup untuk mempertahankan kemampuan operasional bisnis ini," kata perusahaan tersebut dalam pernyataan resminya.

Bisnis maskapai penerbangan dan industri lainnya yang berkaitan dengan sektor transportasi kini menjadi yang paling terpukul. Karena negara-negara di seluruh dunia menutup perbatasannya untuk menahan virus tersebut. Tingkat infeksi di Malaysia masih terus meningkat. AirAsia mengatakan pendapatannya merosot 91% menjadi 205,1 juta Ringgit dari tahun sebelumnya.

Sementara kondisi industri penerbangan di Indonesia, tidak jauh berbeda karena dua maskapai, yakni Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia tengah melakukan pengurangan karyawan dengan skema penawaran resign dan pensiun dini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini