Selamatkan Garuda Indonesia, Erick Thohir Ubah Bisnis Garuda Indonesia

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 02 Juni 2021 13:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 320 2418882 selamatkan-garuda-indonesia-erick-thohir-ubah-bisnis-garuda-indonesia-uBVPJlaU0W.jpg Garuda (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir akan memfokuskan rute penerbangan Garuda Indonesia dan Citilink di pasar domestik. Langkah itu seiring dengan ceruk pasar domestik yang dinilai potensial.

Menurutnya, upaya tersebut pun sudah dibicarakan dengan manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) sejak Januari 2019 atau sebelum pandemi merebak di Indonesia. Di mana, data penerbangan saat ini didominasi oleh penumpang domestik.

Tercatat, 78% penumpang menggunakan jasa pesawat untuk bepergian antar pulau. Untuk biaya, sebanyak Rp 1.400 triliun dikontribusikan oleh turis lokal. Sedangkan 22% atau sekitar Rp300 triliun berasal dari turis mancanegara.

“(Kontribusi) lokal turis itu mencapai Rp 1.400 triliun, sedangkan turis asing hanya 22 perse atau sekitar Rp 300 triliun. Kalau kita berbisnis ya jelas ini marketnya karena Indonesia juga negara kepulauan,” ujar Erick di Gedung Kementerian BUMN, Rabu (2/5/2021).

Baca Juga: Erick Thohir Bakal Kurangi Jumlah Komisaris Garuda Indonesia

Pemegang saham menilai, langkah tersebut merupakan terobosan paling realistis untuk menyelamatkan industri penerbangan pelat merah. Sebab, kedua maskapai tersebut mempekerjakan setidaknya 1.300 pilot dan awak kabin serta 2.300 pegawai.

Selain itu, Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi berkah tersendiri bagi industri penerbangan. Sedangkan aviasi milik pemerintah di negara lain bahkan kondisinya lebih memprihatinkan dibandingkan dengan Garuda Indonesia dan Citilink.

Baca Juga: Jadi Menteri, Erick Thohir Curhat ke Deddy Corbuzier: Saya Dijauhi Teman karena Tak Akomodasi Kepentingan

“Jadi kita patut bersyukur tinggal bagaimana mencari cara agar Garuda bisa sustainable (berkelanjutan) karena Indonesia negara kepulauan dan domestik market kuat maka harus bisa menjadi peluang,” kata dia.

Selama merebaknya pandemi hampir melumpuhkan seluruh industri transportasi. Kebijakan pembatasan pergerakan menyebabkan kapasitas bandara di seluruh Indonesia hanya terisi 15% dan sempat naik di angka 32%.

Sedangkan untuk kereta api, tingkat keterisiannya hanya di angka 10% hingga 15%. “Tentu kami tidak boleh menutup diri atau berdiam diri dan harus melakukan terobosan serta melakukan perbaikan,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini