Garuda Indonesia Terancam Bangkrut, Harga Sahamnya Kok Naik?

Aditya Pratama, Jurnalis · Jum'at 04 Juni 2021 09:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 04 278 2419944 garuda-indonesia-terancam-bangkrut-harga-sahamnya-kok-naik-88h5fdukIP.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk naik di tengah isu bangkrutnya perseroan. Pada penutupan perdagangan kemarin, saham Garuda Indonesia mengalami kenaikan sebesar Rp6 atau 2,24% ke Rp274 per unit pada hari ini. Dalam sebulan terakhir saham GIAA mengalami penurunan 16,46% dan secara year to date menurun 31,84%.

Adapun frekuensi perdagangan saham GIAA mencapai 3.377 kali dengan 38,68 juta lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp10,77 miliar. Price Earning Ratio (PER) -0,33 dan market cap sebesar Rp7,09 triliun.

Baca Juga: Mantan Bos Garuda Indonesia Dituntut 12 Tahun Penjara

Menanggapi kenaikan saham GIAA, Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada mengatakan, kenaikan harga saham maskapai nasional tersebut kemungkinan dipengaruhi peningkatan atau tren positif yang terjadi di pasar saham Tanah Air belakangan ini.

"Karena hari ini pasar saham kembali melanjutkan kenaikan, bisa saja pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebelumnya untuk masuk dengan mengesampingkan sentimen-sentimen yang ada di GIAA," ujar Reza kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (4/6/2021).

Baca Juga: Garuda Indonesia Ditargetkan Bisa Restrukturisasi Utang hingga Rp21,4 Triliun

Reza menambahkan, beberapa kabar yang berasal dari Garuda Indonesia memang menjadi sentimen negatif bagi kinerja perusahaan yang disadari terimbas dari adanya pandemi Covid-19.

"Air Asia yang penerbangan low cost aja juga terkena dampaknya. Jadi, memang adanya imbas pandemi ini membuat industri penerbangan secara umum mengalami penurunan," kata dia.

Dia menuturkan, adanya opsi penyelamatan bagi GIAA memang diperlukan jika memang GIAA mau dipertahankan sebagai maskapai kebanggaan nasional.

"Entah itu melalui restrukturisasi utang atau transformasi bisnis ke bisnis selain penumpang dengan mengoptimalkan anak-anak usahanya atau opsi lain yang diharapkan bisa membantu GIAA untuk bisa minimal bertahan dan ke depan kita harapkan bisa membaik," ucapnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Garuda Indonesia dikabarkan akan memangkas setengah jumlah armada utamanya. Hal ini dilakukan perusahaan penerbangan pelat merah itu demi bisa bertahan dari krisis akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, Garuda juga memiliki utang sekitar Rp70 triliun. Jumlah itu bertambah Rp1 triliun setiap bulannya karena melakukan penundaan pembayaran kepada pemasok. Perseroan memiliki arus kas dan ekuitas minus Rp41 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini