Wall Street Bervariasi Menanti Data Inflasi AS

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 09 Juni 2021 07:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 09 278 2422247 wall-street-bervariasi-menanti-data-inflasi-as-mNFGmZ5SQ3.jpg Wall Street (Foto: Reuters)

NEW YORK - Bursa saham AS, Wall Street bergerak bervariasi pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat. Hal ini karena kurangnya katalis pasar memicu rally pada saham meme.

Ketiga indeks saham utama AS mengakhiri sesi mendekati datar. S&P 500 dan Dow ditutup sekitar 0,5% dari rekor tertinggi. Sedangkan Nasdaq Composite yang terkait dengan saham teknologi mendapat dorongan dari Amazon Inc dan Apple Inc.

Baca Juga: Wall Street Ditutup 2 Arah, Nasdaq Naik 67 Poin

Dow Jones Industrial Average turun 30,42 poin atau 0,09% menjadi 34.599,82. S&P 500 naik 0,74 poin, atau 0,02%, pada 4.227,26 dan Nasdaq Composite bertambah 43,19 poin, atau 0,31%, menjadi 13.924,91.

"Kami menunggu angka inflasi dan menunggu lebih banyak dari Federal Reserve. Kami berada di zona ini sampai mungkin tepat setelah Juli, ketika kami melihat musim pendapatan dimulai,” kata Manajer Portofolio Kingsview Asset Management Paul Nolte, dilansir dari Reuters, Rabu (9/6/2021).

Baca Juga: Saham Teknologi Topang Kenaikan Wall Street

Smallcaps didukung hiruk-pikuk ritel stok meme yang sedang berlangsung atau mengungguli saham lain yang lebih besar. Clover Health Investments mendapat kenaikan tertinggi di antara saham meme, melonjak 85,8%

Saham lain yang volume perdagangan dikaitkan dengan buzz media sosial, termasuk GameStop Corp, Bed Bath & Beyond Inc, Workhorse Group dan lainnya mengakhiri sesi antara 7% dan 12% lebih tinggi.

“(Saham meme) adalah tempat aksinya, tetapi Anda membaliknya dan melihat crypto dan itu berantakan. Sekarang stok meme mengambil alih dari crypto sebagai tempatnya dan itu semua adalah konsekuensi dari kebijakan moneter yang sangat mudah,” ujar Nolte.

Sementara itu, pelaku pasar sedang menanti data indeks harga konsumen yang dirilis Kamis untuk petunjuk lebih lanjut mengenai inflasi. Investor akan melihat bagaimana data tersebut al mempengaruhi kebijakan Federal Reserve untuk pengetatan kebijakan moneternya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini