Eranya Merger, Erick Thohir: Covid-19 Bangungkan BUMN yang Lagi Tidur

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 15 Juni 2021 11:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 15 320 2425335 eranya-merger-erick-thohir-covid-19-bangungkan-bumn-yang-lagi-tidur-C4xxKooxgG.jpg Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Koran Sindo)

JAKARTA – Beberapa BUMN resmi merger di era kepemimpinan Menteri BUMN Erick Thohir. Dia mengakui, era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) merupakan era merger atau penggabungan perseroan negara.

Namun ternyata ada BUMN yang enggan di merger. Sebab, kapitalisasi pasar dan portofolio perusahaan tercatat besar. Misalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Baca Juga: Erick Thohir: Buat Apa Punya 143 BUMN tapi Setor Dividen Cuma 10 BUMN

"Kita juga di telekomunikasi, sekarang eranya merger-merger, tapi Telkom masih besar," ujar Erick, Selasa (15/6/2021).

Di lain sisi, pemegang saham memberi tantangan agar sejumlah perseroan pelat merah masuk ke dalam daftar Fortune 500. Langkah yang sama seperti dilakukan tiga Bank Himbara yakni, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank BRI (Persero) Tbk, dan Bank BNI (Persero) Tbk.

Baca Juga: Erick Thohir Akui yang Kaya Makin Kaya, Miskin Makin Miskin

Keinginan Erick agar BUMN bersaing di pasar global diawali dengan pemangkasan 12 klaster. Dimana, hanya ada klaster energi dan gas, klaster minerba, klaster perkebunan dan kehutanan, klaster pupuk dan pangan, klaster farmasi, klaster industri pertahanan, klaster asuransi, klaster media, klaster infrastruktur, klaster pariwisata, serta klaster sarana dan prasarana.

Dengan penyederhanaan klaster, pemegang saham berharap perseroan lain dapat mengikuti jejak BUMN sektor perbankan.

"Nah kita berharap klaster yang lain juga seperti itu. Bahwa BUMN bisa bersaing menjadi lokomotif pembangunan dan juga kesejahteraan. Memang ini tidak muda tapi harus kita lakukan dalam waktu cepat. Karena kebetulan apa? Covid ini membangunkan singa BUMN yang lagi tidur, negara kita lagi tidur," tutur dia.

Mantan Bos Inter Milan itu menegaskan era digitalisasi dan pasar terbuka menuntut perusahaan negara memperbarui bisnisnya. Karena itu, pemerintah terus mengambil langkah perapihan BUMN.

Sekarang, benar-benar merapikan BUMN dengan segala kekurangan dan kelebihan, tapi kita lakukan lima hal, satu memetakan BUMN mana yang sangat bisnis, mana yang 50-50 bisnis dan kesejahteraan, mana yang kesejahteraan seperti PT Pupuk, kita petakan," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini