Harga Pangan Dunia Naik, Indonesia Diminta Segera Amankan Stok

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Rabu 16 Juni 2021 13:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 16 320 2426037 harga-pangan-dunia-naik-indonesia-diminta-segera-amankan-stok-hh7yuSoG6f.jpg Harga Pangan Dunia Naik. (Foto: Okezone.com/Bulog)

JAKARTA - Harga komoditas pangan secara global sia melonjak. Masyarakat pun khawatir naiknya harga komoditas membuat harga barang-barang naik.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, indeks biaya pangan melambung hampir mencapai 5% pada Mei 2021 atau menjadi kenaikan tertinggi sejak September 2011.

Kenaikan ini dinilai mempercepat inflasi yang lebih luas dan mempersulit upaya bank sentral dalam memberi lebih banyak stimulus.

Baca Juga: Harga Kedelai Naik Lagi, Pengrajin Tahu-Tempe Mogok Lagi?

Menurut Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal, ada kemungkinan demand akan cenderung inbalance. Sehingga ada kecenderungan dari demand di negara-negara tertentu untuk naik, sementara produksinya tertahan.

Fithra melanjutkan, ada yang sebelumnya menjadi eksportir barang-barang komoditas pangan, tetapi mereka menahan untuk produksi dalam negeri. Kendati demikian, hal itu bisa memicu kenaikan harga pangan.

Baca Juga: Daftar Harga Kebutuhan Pokok, Daging Sapi Masih Tinggi

“Secara alami, demand itu lebih agresif dibandingkan dengan kemampuan produksi. Jadi seperti yang kita alami sekarang dengan kenaikan harga, itu disebabkan karena gap tersebut,” ujarnya dalam Market Review di IDX Channel, Rabu (16/6/2021).

Menurutnya, naiknya harga pangan di pasar dunia membuat Indonesia harus mengamankan stok. Bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi impor.

“Ini harus dipetakan, mana produk-produk yang bisa diproduksi dan bisa dicari, mana yang kemudian punya potensi akan langka,” tutur Fithra.

Berikutnya, jika Indonesia memiliki potensi komoditas langka dan ada gap antara demand dan suplainya, maka, diperlukan kerjasama pihak pemerintah dan swasta.

Hal ini guna melakukan kerjasama terbatas dengan para ekportir dengan cara memprioritaskan masyarakat Indonesia sebagai pembeli. “Misalnya untuk beras ada dari Vietnam, daging sapi dari Australia,” tambahnya.

Kemudian, untuk menekan kelangkaan komoditas, Fithra menyebut pemerintah haus mendorong produksi domestik. Sebab, produk-produk pertanian dan peternakan Indonesia belum terindustrisasi, melainkan kepemilikannya masih perorangan, belum masuk ke wilayah industri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini