BI Beberkan Bukti Pemulihan Ekonomi Dunia, dari China hingga AS

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 17 Juni 2021 16:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 320 2426755 bi-beberkan-bukti-pemulihan-ekonomi-dunia-dari-china-hingga-india-GJzhYaYmWK.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Hal ini termasuk melalui implementasi Paket Kebijakan Terpadu KSSK, guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

"Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait juga terus dilakukan untuk mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan, meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas, dan memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (17/6/2021).

Kinerja perekonomian dunia terus membaik sesuai prakiraan, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun.

Baca Juga: BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga di 3,5%

"Perkembangan tersebut terutama ditopang oleh pemulihan ekonomi AS yang semakin kuat, serta perbaikan ekonomi di Tiongkok dan sejumlah negara di Kawasan Eropa yang terus berlangsung sejalan percepatan vaksinasi dan berlanjutnya stimulus kebijakan," ungkapnya.

Sementara itu, ekonomi India diprakirakan makin melemah akibat kenaikan kasus Covid-19 dan perluasan pembatasan mobilitas.

Baca Juga: Borong SBN Rp115,8 Triliun, Ini Kata Bos BI

"Berbagai indikator dini pada Mei 2021 mengonfirmasi pemulihan ekonomi global yang terus menguat, seperti tercermin pada Purchasing Managers' Index (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel di beberapa negara," tambahnya.

BI mencatat volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga meningkat. Ketidakpastian pasar keuangan global menurun sejalan dengan kejelasan arah kebijakan the Fed yang tetap akomodatif dan berpandangan masih terlalu dini untuk pengurangan stimulus moneter (tapering) AS.

"The Fed masih melanjutkan pembelian surat-surat berharga sampai dengan terdapat perkembangan yang substansial terkait inflasi dan tenaga kerja. Perkembangan positif tersebut kembali meningkatkan aliran modal global ke negara berkembang, termasuk Indonesia, dan mendorong penguatan mata uang di berbagai negara tersebut," pungkas Perry.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini