Harga Minyak Dunia Nyaris Anjlok 2%

Antara, Jurnalis · Jum'at 18 Juni 2021 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 320 2427054 harga-minyak-dunia-nyaris-anjlok-2-YiGI8cvfYE.jpg Kilang Minyak (Reuters)

JAKARTA - Harga minyak dunia anjlok hampir 2% dari level tertinggi dalam beberapa tahun pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Harga minyak turun setelah naik selama lima hari beruntun, karena dolar menguat setelah bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga acuan secepatnya pada 2023.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus terpangkas USD1,31 atau 1,8%, menjadi ditutup pada USD73,08 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli turun USD1,11 atau 1,5%, menjadi menetap di USD71,04 per barel, dilansir dari Antara, Jumat (18/6/2021).

Baca Juga: Rugi Jual Pertamax, Sinyal Pertamina Naikkan Harga BBM

Kekhawatiran permintaan minyak muncul kembali setelah kasus Virus Corona baru melonjak di Inggris, sementara kekhawatiran pasokan atas kembalinya barel Iran juga membebani pasar.

Namun para pedagang mengatakan pemilihan presiden pada Jumat di Iran dapat menggagalkan pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran dan membiarkan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran tetap berlaku.

Dolar AS menguat ke level tertinggi sejak pertengahan April terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya setelah Fed mengisyaratkan akan menaikkan suku bunga pada kecepatan yang jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Dekati USD75/Barel

Greenback yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal dalam mata uang lain, yang dapat mengurangi permintaan.

Inggris melaporkan kenaikan harian terbesar dalam kasus baru COVID-19 sejak 19 Februari pada Kamis (17/6/2021), menurut angka pemerintah yang menunjukkan 11.007 infeksi baru, naik dari 9.055 sehari sebelumnya.

"Lonjakan kasus COVID di Inggris ini meskipun vaksinasi cepat akan meningkatkan banyak alarm tentang seberapa cepat seluruh Eropa akan dibuka kembali," kata Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya,mencatat "minyak mentah bisa matang untuk ambil untung lebih lanjut jika komentar yang lebih optimis datang dari putaran terakhir pembicaraan nuklir Iran."

Pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 telah mendekati kesepakatan, tetapi masalah-masalah penting tetap harus dinegosiasikan, kata perunding utama Iran pada Kamis (17/6/2021).

Iran sedang menuju ke pemilihan presiden pada Jumat, dengan kepala kehakiman garis keras Ebrahim Raisi di antara kandidat terdepan.

"Sangat mungkin pembicaraan nuklir bisa gagal jika kesepakatan tidak dilakukan pada Agustus (ketika) presiden reformasi saat ini Hassan Rouhani akan meninggalkan pemerintah," kata Direktur Energi Berjangka Mizuho, Bob Yawger, di New York.

Washington telah memberikan sanksi kepada Raisi karena diduga terlibat dalam eksekusi tahanan politik. Pemilihannya akan mempersulit Amerika Serikat dan Iran untuk mencapai kesepakatan tentang pengayaan uranium Iran yang akan memungkinkan pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

Analis mengatakan Iran dapat meningkatkan pasokan minyak sebesar 1 juta hingga 2 juta barel per hari jika sanksi dicabut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini