Curhat UMKM saat PPKM Darurat: Kami Dapat Uang dari Mana?

Senin 05 Juli 2021 09:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 05 320 2435539 curhat-umkm-saat-ppkm-darurat-kami-dapat-uang-dari-mana-sZbEdJ83g7.jpg Dampak PPKM Darurat pada UMKM. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tergabung dalam Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) menolak keputusan Presiden Joko Widodo yang memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

Ketua Akumindo Ikhsan Ingratubun mengatakan, PPKM Darurat akan kembali menjatuhkan UMKM yang kini tengah berjuang untuk bertahan.

"Jadi bisa kembali hancur lebur UMKM-nya. Itulah konsekuensi yang diambil pemerintah yang mengutamakan kesehatan. Seharusnya kesehatan dan ekonomi berjalan seiringan," kata Ikhsan, dikutip dari BBC Indonesia, Senin (5/7/2021).

Baca Juga: 1.054 UMKM Dapat Kredit Modal Kerja Rp17,3 Triliun

Bayangan akan kesulitan untuk bertahan di masa PPKM darurat diungkapkan pelaku UMKM. Penjual es Dawet Telasih Dermi Ruth Tulus Subekti mengungkapkan rasa khawatirnya.

"Bagaimana solusinya kalau tidak jualan? Wong itu mata pencaharian saya," kata Ruth.

Ruth menambahkan, selama pandemi terjadi penurunan pendapatan lebih dari 50%, bahkan bisa sangat sepi sekali. "Sekarang, ramai itu adalah bisa bayar makan sama pegawai, itu saja sudah bersyukur," katanya.

"Ini sudah turun, terus ada PPKM lagi, terus bagaimana coba? Saya tidak mungkin PHK dua orang yang membantu karena kasihan," tambahnya.

Baca Juga: UMKM Merajai Pasar Internasional, Hary Tanoe: Saya Rasa Relevan

Presiden Jokowi umumkan PPKM darurat di Jawa dan Bali 3-20 Juli 2021. PPKM ini akan lebih ketat dari kebijakan pembatasan sebelumnya.

Sementara itu, Penjual Pakaian di Jakarta Timur, Asril, tidak dapat membayangkan jika toko usahanya kembali ditutup.

"Saya sangat khawatir dan terpukul sekali. Kalau toko ditutup pemasukan otomatis tidak ada, sementara pengeluaran tetap, harus bayar pegawai dan tempat usaha. Lalu kami dapat uang dari mana?" kata Asril.

Asril memiliki tiga pegawai yang dibayar sekitar Rp100 ribu per hari. Sementara, untuk mendapatkan Rp500.000 saja sulit.

"Sekarang saja pengunjungnya anjlok 80%, tapi setidaknya saya mencoba bertahan sampai pandemi selesai. Tapi kalau ditutup, saya tidak tahu harus bagaimana," katanya.

Tekanan semakin besar karena Asril harus membayar cicilan pinjaman sebesar Rp250 juta ke bank sebagai modal usaha.

Asril meminjam modal ke bank untuk memulai kembali usahanya yang dulu dihantam Covid-19 dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Tapi kami mau berbuat apa? Tidak bisa. Kami hanya berharap agar pemerintah bertanggung jawab ke kami karena melakukan PPKM," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini