Kisah Petani Kopi Raup Cuan hingga Bangun Peternakan Kambing

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 16 Juli 2021 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 455 2441656 kisah-petani-kopi-raup-cuan-hingga-bangun-peternakan-kambing-w0di4XCreV.jpg Pendapatan Petani Kopi di Malang Tetap Meningkat meski PPKM Darurat. (Foto: Okezone.com/Avirista)

Bakri mengakui sebelum adanya pelatihan, para petani di Amstirdam ini masih bercocok tanam dengan pengetahuan yang terbatas, dan menggunakan cara yang diwariskan orang tua sebelumnya, yaitu dengan sistem monokultur atau satu jenis tanaman kopi saja. Hal ini disebutnya mengakibatkan kualitas biji kopi yang dihasilkan dari masing-masing kebun masih beragam dan nilai jualnya menjadi rendah. 

“Kini upaya pembelajaran kami selama lima tahun telah teruji dengan pandemi sekaligus perubahan iklim. Alhamdullilah, sampai saat ini kami masih bisa berkebun dan memenuhi kebutuhan keluarga kami," bebernya.

Kini Bakri tinggal merasakan bagaimana peningkatan produktivitas kebun kopi miliknya. Apalagi di saat bersamaan perusahaan PT Asal Jaya juga menjadi pembeli utama produk - produk kopi dari wilayah Amstirdam.

"Produktivitas kebun kopi kami juga meningkat sekitar 11 persen, dimana PT Asal Jaya menjadi pembeli utama. Berbekal pengetahuan yang dimiliki, ke depannya kami akan meningkatkan biji kopi yang lebih baik dan menurunkan ilmu ini kepada anak cucu kami, untuk mencegah kepunahan kopi,” jelasnya.

Dampak pelatihan dan peningkatan kapasitas juga dirasakan Yurniati, petani kopi perempuan asal Ampelgading, Kabupaten Malang. Saat ini, ia dan kelompok petaninya yang disebut dengan Sustainable Agriculture Business Cluster (SABC) Tawangagung memiliki unit usaha simpan pinjam bagi anggotanya.

“Dana usaha simpan pinjam ini dapat digunakan oleh anggota SABC untuk menjadi modal perkebunan mereka, atau bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga. Contohnya seperti pinjaman untuk biaya pengobatan Covid-19,” terangnya.

Sementara itu Ketua SABC Tawangagung, Ampelgading, mengungkapkan, sebelum mendapatkan program pelatihan dan pendampingan, aktivitas yang dilakukan kelompok tani sangat kurang sekali. Saat ini di bawah kepemimpinannya, kelompok tani dapat memproduksi dan menjual pupuk kompos yang dibuat bersama, hingga mendapatkan sertifikasi SDM Organik untuk produksi pupuknya.

“Saya sebagai perempuan merasa diberikan kepercayaan yang cukup baik dari pelatihan ini sehingga dapat mendorong petani perempuan lainnya untuk aktif dalam kegiatan serupa. Selain memproduksi pupuk, kelompok tani kami juga membuka usaha pembibitan kopi yang kami gunakan sendiri dan untuk dijual,” tutupnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini