5 Penyebab Biaya Logistik di RI Masih Tinggi

Azhfar Muhammad, Jurnalis · Sabtu 17 Juli 2021 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 17 320 2442172 5-penyebab-biaya-logistik-di-ri-masih-tinggi-ypqC9FVCGD.jpg Pelindo II soal Biaya Logistik. (Foto: Okezone.com/Pelindo II)

JAKARTA- Direktur Utama Pelabuhan Indonesia (Pelindo II) Arif Suhartono mengaku bahwa biaya logistik di Indonesia lebih tinggi jika dibanding negara lain. Menurutnya, tingginya biaya logistik karena lima hal.

"Lima isu utama yaitu regulasi pemerintah yang tidak kondusif, kemudian ada efisiensi value chain darat yang rendah, efisiensi value chain maritim yang rendah, operasi dan infraastruktur pelabuhan tidak optimal dan terakhir supply demand yang tidak seimbang," ujarnya, Sabtu (17/7/2021).

Baca Juga: Pelindo I Catat Arus Petikemas Naik 7,72% pada Mei 2021

Namun dirinya mengaku hanya menyoroti sesuai bidang pada operasi dan infrastuktur pelabuhan yang tidak optimal.

"Tidak bicara individual port, tapi semuanya terschdule dengan baik, dan memang banyak sekali yang harus di highlight terkait opersasi dan infrastruktur pelabuhan yang tidak optimal menjadi hal yang harus digaris bawahi ya nanti harus terintegrasi," paparnya.

Baca Juga: Merger Pelindo I-IV, Kapan Terealisasi?

Faktor ini yang menjadi pendorong dan pertimbangan Pelindo akan mergerisasi untuk memaksimalkan performa dan bersinergi bersama BUMN pelabuhan lainnya.

Sementara itu, Arif Suhartono mengungkapkan semenjak Indonesia dihantam pandemi Covid-19 pada awal 2020,  dampak aktifitas di pelabuhan sangat signifikan. Terjadi penurunan di sektor petikemas, non petikemas dan arus kapal. 
"Ini sebagai gambaran saja di 2021 Covid-19 menyerang Indonesia di triwulan pertama 2020 ini dampaknya kepada performansi dari aktifitas di pelabuhan. Pada 2020 dari sisi peti kemas turun hampir dengan sampai 10%, non petikemas 16,5% dan arus kapal 14,7%," kata Arif. 
Meskipun demikian, di tahun ini dirinya mengaku optimis ada pertumbuhan di triwulan II-2021
"Pada 2021 pada saat pandemi dari sisi peti kemas ini tumbuh sekitar 11 %, jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kita berharap pandemi berakhir untuk bisa terus lebih baik lagi," pungkasnya. 
Azhfar Muhammad
Sementara itu, Arif Suhartono mengungkapkan semenjak Indonesia dihantam pandemi Covid-19 pada awal 2020,  dampak aktifitas di pelabuhan sangat signifikan. Terjadi penurunan di sektor petikemas, non petikemas dan arus kapal. "Ini sebagai gambaran saja di 2021 Covid-19 menyerang Indonesia di triwulan pertama 2020 ini dampaknya kepada performansi dari aktifitas di pelabuhan. Pada 2020 dari sisi peti kemas turun hampir dengan sampai 10%, non petikemas 16,5% dan arus kapal 14,7%," kata Arif. 
Meskipun demikian, di tahun ini dirinya mengaku optimis ada pertumbuhan di triwulan II-2021
"Pada 2021 pada saat pandemi dari sisi peti kemas ini tumbuh sekitar 11 %, jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kita berharap pandemi berakhir untuk bisa terus lebih baik lagi," pungkasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini