317 Gardu Listrik Terdampak Gempa Sulteng

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 27 Juli 2021 13:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 27 320 2446656 317-gardu-listrik-terdampak-gempa-sulteng-CS1ixLXxUF.jpg PLN Pulihka Gardu Listrik Terdampak Gempa Bumi di Kabupaten Tojo Una-Una. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT PLN (Persero) pulihkan 317 gardu distribusi listrik di sekitar Ampana terdampak gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah (Sulteng). Tercatat, dua kali gempa dengan magnitudo 5,9 Skala Richter (SR) pada pukul 11.52 WITA dan 6,5 pada pukul 20.09 WITA.

317 gardu distribusi di sekitar Ampana terdampak, menyebabkan pasokan listrik bagi sekitar 29.400 pelanggan sempat terganggu.

Baca Juga: Penjelasan PLN soal Ancaman Putus Listrik Rumah Lukman Sardi

Meski begitu, saat ini perseroan sudah memulihkan sistem kelistrikan di kawasan yang sebelumnya terdampak dua kali gempa tersebut. General Manager PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo, Leo Basuki menyebut, sejak Selasa hari ini, pukul 02:17 WITA, sistem Ampana sudah normal 100%.

Perbaikan dilakukan usai Tim siaga PLN menerjunkan 24 personel untuk mengawal pemulihan layanan listrik untuk pelanggan.

Baca Juga: Data Penerima Diskon Listrik Harus Tepat Sasaran, Ini Alasannya

"Ada beberapa jaringan yang mengalami kerusakan. Tapi alhamdulillah berkat kerja cepat rekan-rekan petugas di lapangan listrik dapat segera kembali menyala," ujar Leo Basuki, Selasa (27/7/2021).

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut pusat gempa ini merupakan bagian dari daerah seismik aktif dan kompleks.

"Kawasan ini merupakan daerah dengan seismik aktif dan kompleks. Sulawesi Tengah merupakan kawasan dengan catatan kegempaan pada masa lalu dengan kegempaan cukup kuat sejak 1927," ujar Daryono, Senin kemarin.

Dalam catatannya, ada sebuah pola sesar yang memanjang di mana dalam setiap kasus sesar mendatar bisa terjadi mekanisme turun. Menurut Daryono kawasan ini minim diteliti.

"Ini merupakan fenomena biasa. Namun kawasan ini minim diteliti, perlu dipelajari lebih lanjut dan detail. Aspek mitigasi harus kita kembangkan," ucap Daryono.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini