Pasutri Ini Sukses Bangun Industri Rental Pakaian Miliaran Dolar

Hafid Fuad, Jurnalis · Sabtu 14 Agustus 2021 19:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 14 320 2455508 pasutri-ini-sukses-bangun-industri-rental-pakaian-miliaran-dolar-dMdWczO64M.jpg Kisah Pasutri Raena Lim dan Chris Halim Perbaiki Bisnis Industri Mode. (Foto: Okezone.com/CNBC)

JAKARTA - Pasangan suami dan istri Chris Halim dan Raena Lim menginvestasikan USD40.000 untuk usahanya di industri mode. Pasangan berusia 32 tahun ini berupaya memperbaiki usaha sewa pakaian melalui aplikasi Style Therory.

“Kami memang memasukkan sekitar USD40.000. Sejujurnya, kami tidak tahu apakah kami bodoh atau berani,” ujar pasangan yang memutuskan berhenti dari pekerjaan untuk memulai bisnis ini, dilansir dari CNBC, Sabtu (14/8/2021).

Lim dan Halim merupakah salah satu pendiri Style Theory, platform persewaan busana Singapura yang memungkinkan pelanggan meminjamkan barang tak terbatas dengan biaya bulanan tetap.

Baca Juga: 4 Hal Penting Bangun Branding agar Bisnis Laris Manis

Start-up yang didukung SoftBank ini memiliki lebih dari 200.000 pengguna terdaftar di Singapura dan Indonesia. Di mana layanan yang ditawarkan inventaris 50.000 pakaian dan lebih dari 2.000 tas.

Lim seorang mantan bankir Goldman Sachs, sedangkan suaminya adalah konsultan. Ide untuk bisnis ini mereka temukan pada 2016, demi menjawab sebuah problematika umum yaitu; merasa tidak punya pakaian untuk dipakai.

"Momen 'aha' itu tiba ketika Chris bertanya serius 'mengapa kamu punya begitu banyak baju dan kamu selalu mengeluh bahwa kamu tidak punya pakaian?'" ujar kepala operasional Lim.

"Bagi seorang berlatar belakang finance, terbiasa dengan logika dan matematika, itu mendadak terasa sangat ganjil. Itu benar-benar respon yang sangat tidak logis dalam hal fashion," katanya.

Menjadikannya Bergaya

Dalam awal karirnya Lim bekerja untuk perusahaan non-profit di Kenya. Lalu Lim ingin memulai sebuah proyek yang memungkinkannya melakukan kebaikan. Dan dengan bertambahnya kerusakan lingkungan akibat praktik fast fashion maka misinya semakin jelas.

Baca Juga: Rahasia Industri Furnitur Bangkit dari Pandemi Covid-19

Industri tekstil menjadi salah satu penghasil polusi terbesar di dunia, dengan emisi global setara dengan 1,2 miliar ton karbon dioksida setiap tahunnya. Ini lebih banyak daripada gabungan semua penerbangan dan pengiriman internasional.

Perilaku inefisiensi telah memicu lahirnya beragam platform penyewaan pakaian. Ini menyasar konsumen yang memiliki kesadaran. Mereka butuh solusi yang membuat mereka tidak lagi merasa bersalah dengan fast fashion.

Dimulai di AS tahun 2009 lalu, industri mode sirkular pun langsung berkembang dalam sepuluh tahun terakhir. Ini menginspirasi merek lainnya di berbagai negara. Namun, akses logistik di Asia Tenggara membuat pasar sulit ditaklukkan. Ini yang menyebabkan Lim dan Halim langsung melakukan uji coba pertama kalinya.

"Kami memulai dengan membuat daftar tunggu pelanggan. Jadi ini mengakali agar bajunya cukup bagi pelanggan," kata pimpinan eksekutif Halim. "Seiring pelanggan yang bertambah, membuktikan apa yang kami lakukan benar atau salah. Lalu kami terus kembangkan dari sana,".

Menggunakan Pendekatan Berbasis Data

Dengan pendekatan berbasis data, pasangan tersebut beralih dari yang tadinya secara inhouse lalu beralih jadi konsinyasi atau penitipan di tahun 2019.

Di bawah konsep baru, Style Theory, memegang saham atas nama para desainer dan individu. Sehingga ini menguntungkan mereka setiap satu item disewa. Perusahaan kemudian mengambil potongan USD95 untuk biaya berlangganan bulanan tak terbatas untuk manajemen fee, kurir dan pembersihan.

Kebijakan tersebut berhasil menarik investor, termasuk SoftBank, Alpha JWC Ventures dan perusahaan real estate Indonesia the Paradise Group, hingga telah berinvestasi sekitar USD30 juta dalam perusahaan tersebut.

"Masalah yang mereka pecahkan jelas untuk para pengguna dan, dalam kasus ini, banyak pengguna wanita. Tetapi ini juga menyediakan solusi bagi pemasok atau para desainer untuk dapat mencapai pasar target ini secara lebih langsung, "Jefrey Joe, mitra pengelola di Alpha JWC Ventures.

Industri yang Modis

Seluruh pendanaan tersebut menunjukkan minat investasi di sektor yang baru, tapi juga terus bertumbuh.

Industri penyewaan pakaian online memiliki valuasi USD 1,2 miliar di seluruh dunia pada tahun 2019. Pada tahun 2027, angka itu diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat hingga USD2,8 Miliar.

Sebagian besar dari pertumbuhan itu mayoritas digerakkan Asia-Pasifik, di mana bisnis penyewaan pakaian akan terganggu dengan Style Theory. Menurut perusahaan riset pemasaran Nester, kawasan ini diperkirakan akan menguasai hampir seperempat (22,14%) dari seluruh pasar dalam waktu enam tahun.

"Ukuran pasar untuk segmen ini masih kecil … (tetapi) kita juga melihat potensi yang besar, "kata Joe. "Pasar pakaian sirkular ini cukup besar untuk menciptakan satu unicorn dari Asia Tenggara," katanya.

Koleksi yang Tak Lekang Waktu

Para pendiri Style Theory yakin bisnis sewa pakaian tidak mengenal musim.

Dalam lima tahun terakhir, mereka mengatakan telah memfasilitasi lebih dari 2,3 juta sewa dan menyimpan lebih dari 600.000 desainer barang bekas yang terancam masuk pembuangan sampah.

Sekarang, mereka berencana untuk menargetkan pasar baru dan basis konsumen baru. Strateginya menambahkan konsumen laki-laki dan anak-anak dan memperluas pasar ke Hong Kong di akhir tahun ini.

Tapi meskipun menantang, suami istri tersebut mengatakan mereka telah menemukan pasangan yang cocok untuk pakaian mereka.

"Pada dasarnya, bisnis ini seperti bayi bagi kami," kata Halim. "Kepercayaan penuh, keselarasan 100%, benar-benar sangat membantu dan sangat penting ketika Anda membuat keputusan penting bersama-sama."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini