Mari Elka Bilang Sudah Ada Tanda-Tanda Pemulihan Ekonomi

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Sabtu 14 Agustus 2021 14:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 14 320 2455585 mari-elka-bilang-sudah-ada-tanda-tanda-pemulihan-ekonomi-iiqiHGinoJ.jpg Tanda-Tanda Pemulihan Ekonomi Seiring Masifnya Vaksinasi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Managing Director World Bank Mari Elka Pangestu mengatakan tanda-tanda pemulihan ekonomi dunia sudah terlihat sejalan dengan percepatan vaksinasi dan stimulus yang diberikan pemerintah dari negara-negara.

Mantan Menteri Perdagangan ini menilai vaksinasi dan stimulus menjadi kunci utama dalam pemulihan ekonomi Indonesia.

"Apa yang menjadi proyeksi ke depan memang sudah ada tanda-tanda pemulihan, bahkan proyeksi ekonomi dunia juga tengah mengalami pemulihan pesat terutama didorong oleh AS dengan program stimulusnya yang besar dan tingkat vaksinasi yang tinggi, serta didorong pertumbuhan di RRT," kata Mari dalam Congress of Indonesian Diaspora (CID) 'Peranan Diaspora dalam Pembangunan Bangsa' secara virtual, Sabtu (14/8/2021).

Baca Juga: Tangani Covid-19 di Sulawesi, Menko Airlangga Tingkatkan Testing hingga Vaksinasi

Mari Elka menyoroti betapa besar pengaruh percepatan vaksinasi dan stimulus untuk meminimalisir dampak ekonomi.

"Kunci utamanya adalah tingkat vaksinasi dan juga seberapa jauh stimulus itu bisa dijalankan di masing-masing negara," terangnya.

Di sisi lain, kerjasama global antar-negara untuk memastikan sisi supply-demand dari vaksin perlu dilakukan.

"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa global cooperation dalam sisi ketersediaan dari negara maju ke negara berkembang perlu dilakukan," ujar Mari sembari berujar bahwa produsen vaksin masih terkonsentrasi di negara maju.

Diketahui, Indonesia menargetkan lebih dari 200 juta populasi penduduk untuk divaksin dengan target rata-rata 1-2 juta dosis suntikan per hari di beberapa wilayah yang menjadi prioritas.

Baca Juga: Menko Luhut Peringatkan Pemda Tidak Tutupi Angka Covid-19

Sementara itu, Mari Elka menyoroti ketimpangan vaksinasi di sejumlah negara.

"Saat ini di Afrika hanya 1% dibanding di negara maju, dan produksi juga masih terkonsentrasi di negara maju," tuturnya.

Dari sisi permintaan (demand-side), negara harus siap menerima pasokan vaksin secara rutin, sembari mempertimbangkan faktor-faktor kesiapan lainnya.

Seperti persoalan imunitas dari tenaga kesehatan, pelatihan pekerja, dan pendekatan vaksinasi ke masyarakat.

"Dua hal yang paling besar pengaruhnya adalah kecukupan dari tenaga medis untuk melakukan vaksinasi dan komunikasi dari negara dan komunitas ke masyarakat," terangnya.

Dirinya memprediksi bahwa percepatan vaksinasi dapat rampung pada 2022.

"Karena memang semua prediksi ini sangat terkait dengan seberapa jauh negara itu bisa mempercepat program vaksinasi itu," terangnya.

Tak ketinggalan, stimulus pemerintah berpengaruh di masyarakat. Namun, dirinya menyoroti ketimpangan alokasi stimulus antara negara maju dan berkembang.

"Tentunya negara berkembang dalam situasi yang tidak menguntungkan, kalau rata-rata negara berkembang hanya bisa mempunyai kekuatan 4-5% dari produk domestik bruto (PDB) untuk melakukan stimulus termasuk social protection untuk masyarakatnya, di mana negara maju bisa sampai 10-20%, di situ letak perbedaannya," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini