Share

Banyak Perusahaan PKPU dan Pailit, Ada Apa?

Antara, Jurnalis · Selasa 24 Agustus 2021 19:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 24 320 2460535 banyak-perusahaan-pkpu-dan-pailit-ada-apa-zgqCQrWumM.jpg Menko Airlangga Ungkap Kasus PKPU Meningkat. (Foto: Okezone.com/Kemenko Perekonomian)

JAKARTA - Jumlah kasus pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan Kepailitan meningkat menjadi 430 kasus.

“Sampai sekarang sudah ada sekitar 430 kasus yang dipailitkan atau di-PKPU-kan di pengadilan Jakarta, Surabaya, dan lainnya,” kata Menko Airlangga Hartarto, dikutip dari Antara, dalam Rakernas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), di Jakarta, Selasa (24/8/2021).

Pemerintah memandang terdapat moral hazard dalam pengajuan PKPU dan kepailitan tersebut karena persyaratannya yang mudah.

Baca Juga: Pak Erick Thohir, Serikat Karyawan Tolak Opsi PKPU untuk Selamatkan Garuda Indonesia

Aturan pengajuan PKPU, kata Menko Airlangga, merupakan produk hasil krisis moneter tahun 1998. Saat itu aturan dibuat untuk mempermudah pelaku usaha keluar dari dampak krisis sehingga sempat terjadi terjadi pengajuan kepailitan secara massal.

“Ini menjadi bagian dari EoDB (Ease of Doing Business atau kemudahan berusaha), bahwa mekanisme exit-nya dipermudah,” kata Menko Airlangga.

Baca Juga: Dirut Garuda Indonesia Buka-bukaan soal Digugat PKPU oleh My Indo Airlines

Pemerintah pun moratorium atau penundaan pembayaran utang berdasarkan undang-undang untuk perusahaan-perusahaan yang terdampak pandemi Covid-19 agar tidak sampai mengajukan pailit. Hal ini agar pengajuan PKPU dan pailit tidak sampai dimanfaatkan oleh oknum-oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Sekarang pemerintah sedang mengkaji terkait hal tersebut karena ini bukan hanya dimanfaatkan debitur tapi beberapa kreditur menggunakan ini sebagai bagian dari corporate action mereka,” ucap Menko Airlangga.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani meminta pemerintah melakukan moratorium dan memperpanjang aturan restrukturisasi kredit usaha sampai 2025.

Dia khawatir dengan peningkatan pengajuan PKPU dan kepailitan, banyak pihak yang akan memanfaatkan celah Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

“Kami mohon bisa dilakukan moratorium dan sejalan dengan permintaan kami ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan) tadi restrukturisasi kredit bisa diperpanjang sampai 2025. Jadi tekanan kepada pelaku usaha lebih longgar,” ucap Hariyadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini