JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal II-2021. Pada laporan keuangan per 30 Juni 2021, Perseroan mencatatkan laba sebesar Rp12,45 triliun atau naik 13,30% dibanding 30 Juni 2020 sebesar Rp10,98 triliun.
Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp69,48 triliun atau naik 3,92% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp66,85 triliun dengan laba per saham dasar Rp125,69.
Adapun pendapatan Perseroan terdiri atas telepon, interkoneksi, data, internet, dan jasa teknologi informatika, jaringan, Indihome, dan layanan lainnya,
Pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika menjadi penyumbang terbesar pendapatan sebesar Rp39,57 triliun atau lebih rendah dari sebelumnya Rp37,91 triliun. Kemudian, pendapatan Indihome tercatat Rp12,87 triliun atau lebih tinggi dari sebelumnya Rp10,36 triliun.
Pendapatan telepon tercatat Rp8,55 triliun atau lebih rendah dari sebelumnya Rp10,45 triliun, interkoneksi tercatat Rp3,84 triliun atau lebih rendah dari sebelumnya Rp4,12 triliun, jaringan tercatat Rp798 miliar atau lebih rendah dari sebelumnya Rp838 miliar, dan layanan lainnya tercatat Rp2,62 triliun atau lebih tinggi dari sebelumnya Rp2,24 triliun.
Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Buyback Saham, Emiten Arifin Panigoro Siapkan Rp130 Miliar
Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah mengatakan, Telkom berkomitmen melakukan transformasi digital secara konsisten dengan menyediakan berbagai produk dan layanan yang sesuai kebutuhan masyarakat di era kenormalan baru.
"Kehadiran konektivitas, platform dan layanan digital terbaik dari Telkom diharapkan dapat membantu masyarakat dalam beraktivitas, sehingga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia akan semakin membaik ke depannya,” ujar Ririek dalam keterangan tertulis.
Ririek menambahkan, data center menjadi platform digital yang permintaannya tumbuh signifikan seiring dengan peningkatan aktivitas pemain di bisnis digital. Selain itu, dari bisnis menara telekomunikasi, Mitratel sebagai anak usaha Telkom yang saat ini memiliki lebih dari 23 ribu menara atau tumbuh 45 persen secara year on year (yoy), memiliki tenancy ratio 1,57 kali dari yang sebelumnya 1,54 kali pada Juni 2020.
Mitratel melakukan berbagai langkah sebagai pemain tower terbesar di Indonesia, yang mendukung beragam kebutuhan tidak hanya bagi TelkomGroup tapi juga tenant lainnya. Sehingga Mitratel bersiap untuk mengoptimalkan value creation selanjutnya melalui aksi korporasi yang lebih besar lagi.
Pada bisnis digital, transformasi bisnis yang dilakukan Telkom memperlihatkan hasil yang cukup baik. Dalam upaya mengembangkan bisnis digital, TelkomGroup menerapkan tiga strategi utama, yakni build dengan membangun kompetensi internal, borrow melalui kemitraan strategis, dan buy melalui akuisisi dan investasi yang mengutamakan synergy value TelkomGroup.
Baca Juga: Peringkat Utang Emiten Miliarder Prajogo Pangestu Jadi Stabil
Telkom berkomitmen menjalin kerja sama atau kolaborasi dengan berbagai perusahaan teknologi besar (tech giant) baik domestik maupun global. Salah satunya adalah pada Agustus 2021 Telkom resmi melakukan penjajakan kerja sama dengan Microsoft Indonesia. Telkom juga mengucurkan investasi untuk perusahaan digital skala besar maupun perusahaan rintisan, seperti Telkomsel yang menambah nilai investasi pada perusahaan teknologi GoJek pada Mei 2021.
Melalui perusahaan ventura MDI, Telkom juga konsisten menambah nilai dan jumlah investasi pada perusahaan-perusahaan rintisan (startups) potensial dari dalam dan luar negeri. Saat ini, melalui MDI Telkom telah berinvestasi pada 50 startups yang berasal dari 12 negara. Strategi investasi pada startup yang dilakukan perseroan tidak semata fokus pada peningkatan nilai investasi (capital gain) saja, namun juga dari peluang kolaborasi yang mungkin dilakukan para startups terhadap berbagai lini bisnis di TelkomGroup untuk membangun sinergi dalam meningkatkan bisnis dan profitabilitas perusahaan.