JAKARTA - Badai pandemi Covid-19 yang belum berakhir menjadi tekanan bagi kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Pasalnya, di semester pertama 2021, perseroan membukukan pendapatan usaha USD696,8 juta atau turun 24% dibandingkan priode yang sama tahun lalu tercatat sebesar USD917,2 juta.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menuturkan, pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat seiring melonjaknya kasus Covid-19 tidak bisa dipungkiri telah berdampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha jasa transportasi udara.
“Tidak terkecuali bagi kami di Garuda Indonesia yang secara bisnis fundamental mengandalkan mobilitas masyarakat,” ujar Irfa, Kamis (2/9/2021).
Baca Juga: Duh, Kerugian Garuda Indonesia Bengkak Jadi Rp12,8 Triliun di Semester I-2021
Realitas bisnis tersebut tergambar dari catatan kinerja perseroan yang memperlihatkan penurunan pendapatan sebesar 24% menjadi USD696,8 juta sepanjang semester I-2021. Berbeda dengan semester I-2020 yang meraup pendapatan usaha sebesar USD917,2 juta.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan usaha semester I 2021 tersebut dikontribusikan oleh pendapatan penerbangan berjadwal sebesar USD 556,5 juta atau turun dibandingkan periode sebelumnya sebesar USD 750,2 juta. Sedangkan, penerbangan tidak berjadwal mengalami kenaikan sebesar 93,2% menjadi USD41,6 juta dari sebelumnya USD21,5 juta.
Baca Juga: Cucu Usaha Garuda Indonesia Ditutup, Ada Apa?
Begitu juga dengan beban usaha pada semester I-2021 yang menyusut 15,9% menjadi USD 1,3 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 1,6 miliar. Penyusutan beban usaha ditunjang oleh berbagai langkah strategis efisiensi seperti renegosiasi sewa pesawat hingga restrukturisasi jaringan penerbangan melalui penyesuaian frekuensi rute-rute penerbangan.
Namun pada sisi pendapatan lainnya, Garuda kembali mengalami penurunan dari USD 145,4 juta pada semester I-2020 menjadi USD 98,6 juta. Termasuk kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester I-2021 yang membengkak menjadi USD 898,6 juta dibandingkan periode sebelumnya USD 712,7 juta.