Terpukul Imbas Pandemi, Kinerja Keuangan Garuda Masih Terseok-seok

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Kamis 02 September 2021 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 02 278 2465061 terpukul-imbas-pandemi-kinerja-keuangan-garuda-masih-terseok-seok-BhdZ3UiJ2M.jpg Garuda (Foto: Okezone)

JAKARTA - Badai pandemi Covid-19 yang belum berakhir menjadi tekanan bagi kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Pasalnya, di semester pertama 2021, perseroan membukukan pendapatan usaha USD696,8 juta atau turun 24% dibandingkan priode yang sama tahun lalu tercatat sebesar USD917,2 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menuturkan, pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat seiring melonjaknya kasus Covid-19 tidak bisa dipungkiri telah berdampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha jasa transportasi udara.

“Tidak terkecuali bagi kami di Garuda Indonesia yang secara bisnis fundamental mengandalkan mobilitas masyarakat,” ujar Irfa, Kamis (2/9/2021).

Baca Juga: Duh, Kerugian Garuda Indonesia Bengkak Jadi Rp12,8 Triliun di Semester I-2021

Realitas bisnis tersebut tergambar dari catatan kinerja perseroan yang memperlihatkan penurunan pendapatan sebesar 24% menjadi USD696,8 juta sepanjang semester I-2021. Berbeda dengan semester I-2020 yang meraup pendapatan usaha sebesar USD917,2 juta.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan usaha semester I 2021 tersebut dikontribusikan oleh pendapatan penerbangan berjadwal sebesar USD 556,5 juta atau turun dibandingkan periode sebelumnya sebesar USD 750,2 juta. Sedangkan, penerbangan tidak berjadwal mengalami kenaikan sebesar 93,2% menjadi USD41,6 juta dari sebelumnya USD21,5 juta.

Baca Juga: Cucu Usaha Garuda Indonesia Ditutup, Ada Apa?

Begitu juga dengan beban usaha pada semester I-2021 yang menyusut 15,9% menjadi USD 1,3 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 1,6 miliar. Penyusutan beban usaha ditunjang oleh berbagai langkah strategis efisiensi seperti renegosiasi sewa pesawat hingga restrukturisasi jaringan penerbangan melalui penyesuaian frekuensi rute-rute penerbangan.

Namun pada sisi pendapatan lainnya, Garuda kembali mengalami penurunan dari USD 145,4 juta pada semester I-2020 menjadi USD 98,6 juta. Termasuk kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester I-2021 yang membengkak menjadi USD 898,6 juta dibandingkan periode sebelumnya USD 712,7 juta.

Ke depan, Garuda Indonesia akan mengoptimalkan potensi pangsa pasar charter, baik untuk layanan penumpang maupun kargo. Sebab, khusus untuk angkutan logistik, perseroan melihat adanya tren kenaikan jumlah kargo yang diangkut di setiap penerbangan sepanjang semester I 2021.

Terbukti, secara Group Garuda Indonesia mencatatkan jumlah angkutan kargo sebesar 152.300 ton tumbuh 37,56 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 110.715 ton.

Meski tekanan kinerja angkutan penumpang masih terus berlangsung sebagai dampak dari kebijakan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 di sejumlah wilayah di Indonesia, Garuda Indonesia optimistis traffic penerbangan dalam negeri dan tingkat keterisian penumpang pesawat akan berangsur pulih seiring adanya penurunan positivity rate kasus Covid-19 pada tingkat nasional.

“Seiring dengan menurunnya jumlah kasus Covid-19 secara nasional yang berdampak pada relaksasi kebijakan PPKM di sejumlah wilayah di Indonesia, Garuda Indonesia optimistis pada Semester II 2021 akan terdapat peningkatan traffic penumpang secara bertahap,”kata Irfan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini