Share

Penyebab Proyek PLTN di RI Mandek 10 Tahun

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Rabu 22 September 2021 21:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 22 320 2475443 penyebab-proyek-pltn-di-ri-mandek-10-tahun-sPSud8sxDf.jpg Pengembangan PLTN mandek selama 10 tahun (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) stagnan dalam 10 tahun terakhir. Hal ini justru berbanding jauh dengan energi terbarukan yang meningkat pesat.

Analis Independen Kebijakan dan Energi Nuklir Mycle Schneider mencontohkan bahwa di Prancis, bauran listrik dari nuklir mencapai rekor terendahnya pada tahun 2020 selama 30 tahun terakhir. Adanya opsi pembangkitan energi baru terbarukan (EBT) yang lebih murah menjadi penyebabnya.

Baca Juga: Imbas Gempa Bumi Kroasia, Pembangkit Tenaga Nuklir Slovenia Berhenti Beroperasi

"Berinvestasi pada PLTN bahkan dapat menggagalkan tercapainya target perubahan iklim karena seharusnya pendanaan yang ada dialokasikan kepada opsi teknologi yang sudah tersedia, murah, dan dapat diimplementasikan dengan cepat," ujarnya dalam Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021, Rabu (22/9/2021).

Senada, Konsultan Independen Transisi Energi Craig Morris mengatakan bahwa sulit untuk memprediksi harga listrik dari PLTN mengingat PLTN tidak terlalu merespon harga pasar.

Baca Juga: Semua Energi Habis, RI Baru Beralih ke Nuklir

"Jika kita kembali ke tahun 2000 dan memproyeksikan pengembangan energi di tahun 2050, maka kita sudah berada di tahun 2050 dengan mengandalkan energi terbarukan dan penyimpanan energi. Namun kita memutuskan untuk menggunakan nuklir dan CCS, maka kita akan kembali ke tahun 2000," kata Morris.

Selain itu, penggunaan teknologi CCS//CCUS menjadi salah satu strategi global untuk menekan emisi karbon.

Dosen Senior Fakultas Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB) memandang pengembangan CCUS dapat membantu penurunan emisi, seperti pada PLTU batu bara yang berdekatan dengan lapangan migas. Meski demikian, ada keterbatasan dalam pengembangannya.

"Agar bisa lebih ekonomis maka selayaknya lokasi sumber emisi (source) dan lokasi tampungan (sink) mesti berdekatan. Selain itu, perlu penerapan strategi lainnya seperti hub clustering atau menggunakan infrastruktur dukungan CCUS seperti pipa gas bersama-sama untuk menekan biaya CAPEX," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini