Wall Street Melemah Dipicu Lesunya Data Pekerjaan

Antara, Jurnalis · Sabtu 09 Oktober 2021 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 09 278 2483650 wall-street-melemah-dipicu-lesunya-data-pekerjaan-jf6q2Kl5ti.jpg Wall Street Melemah (Foto: Reuters)

JAKARTA - Wall Street lebih rendah pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan pekerjaan lebih lemah dari yang diperkirakan pada September, namun investor masih memperkirakan Federal Reserve akan mulai mengurangi pembelian aset tahun ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergerus 8,69 poin atau 0,03%, menjadi menetap di 34.746,25 poin. Indeks S&P 500 melemah 8,42 poin atau 0,19%, menjadi berakhir di 4.391,34 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup merosot 74,48 poin atau 0,51%, menjadi 14.579,54 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor real estat jatuh 1,12%, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi dan keuangan masing-masing terdongkrak 3,12% dan 0,48%, hanya dua kelompok yang naik.

Tiga indeks utama Wall Street bervariasi untuk sebagian besar sesi sebelum melemah menjelang akhir. Namun, ketiga indeks membukukan keuntungan mingguan dengan S&P 500 menguat 0,8%, Dow bertambah 1,2% dan Nasdaq meningkat 0,1%.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Menguat Didukung Kenaikan Saham Apple dan Tesla

Comcast Corp jatuh setelah Wells Fargo memangkas target harganya pada perusahaan media itu, sementara Charter Communications Inc jatuh setelah Wells Fargo menurunkan peringkat operator telekoimunikasi dan media itu menjadi "underweight" dari "overweight".

Kedua perusahaan termasuk di antara yang memberikan tekanan terbesar terhadap indeks S&P 500 dan Nasdaq. Chevron dan Exxon Mobil menguat lebih dari 2,0% dan termasuk di antara perusahaan yang memberikan kenaikan terbesar pada indeks S&P 500.

Baca Juga: Wall Street Meroket Didorong Kesepakatan Mencegah Gagal Bayar Utang AS

Laporan data penggajian non-pertanian (NFP) Departemen Tenaga Kerja menunjukkan ekonomi AS pada September menciptakan pekerjaan paling sedikit dalam sembilan bulan karena perekrutan turun di sekolah-sekolah dan beberapa bisnis kekurangan pekerja. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,8% dari 5,2% pada Agustus dan pendapatan rata-rata per jam naik 0,6%, lebih tinggi dari yang diharapkan.

“Saya pikir Federal Reserve memperjelas bahwa mereka tidak memerlukan laporan pekerjaan blockbuster untuk melakukan tapering pada November,” kata Kathy Lien, direktur pelaksana di BK Asset Management di New York. "Saya pikir The Fed tetap di jalurnya."

Musim pelaporan keuangan kuartal ketiga dimulai minggu depan, dengan JPMorgan Chase dan bank-bank besar lainnya di antara yang pertama merilis hasil kinerjanya. Investor fokus pada masalah rantai pasokan global dan kekurangan tenaga kerja.

Analis rata-rata memperkirakan laba per saham S&P 500 untuk kuartal ini naik hampir 30%, menurut Refinitiv.

“Saya pikir ini akan menjadi musim laba yang tidak pasti,” kata Liz Young, kepala strategi investasi di SoFi di New York.

"Jika masalah rantai pasokan menaikkan biaya, perusahaan dengan kalkulasi harga yang kuat dapat melewati kenaikan biaya tersebut. Tetapi Anda tidak dapat melewati kekurangan tenaga kerja jika Anda tidak dapat menemukan pekerja untuk dipekerjakan.”

Volume transaksi di bursa AS mencapai 9,2 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini