Emiten Perbankan Ramai-Ramai Gelar Aksi Korporasi, Investor Harus Apa?

Aditya Pratama, Jurnalis · Senin 18 Oktober 2021 10:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 18 278 2487868 emiten-perbankan-ramai-ramai-gelar-aksi-korporasi-investor-harus-apa-aagxlWCEEK.jpg Emiten perbankan lakukan aksi korporasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Emiten perbankan meramaikan pasar modal Indonesia dengan berbagai aksi korporasi. Adapun aksi korporasi emiten perbankan mulai dari penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue hingga stock split saham.

Beberapa emiten perbankan yang melakukan aksi korporasi tersebut diantaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang telah menyelesaikan rights issue dengan penerbitan 28,2 miliar saham baru senilai Rp95,9 triliun.

Baca Juga: Meleset dari Target, Pratama Widya Pangkas Kontrak Jadi Rp252 Miliar

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melakukan aksi korporasi stock split ini sebelumnya telah disetujui dengan rasio 1 : 5 (1 saham dipecah menjadi 5 saham baru). Nilai nominal per saham BBCA sebelum stock split adalah Rp62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split menjadi sebesar Rp12,5.

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada mengatakan, terkait prospek emiten perbankan ke depannya tergantung dari masing-masing pengembangan bank, kemampuan menyalurkan kredit, efisiensi, dan pengembangan lainnya.

Baca Juga: 38 Perusahaan Masuk Pasar Modal RI, Menko Luhut: Tertinggi di Asean

"Kalau BBRI dan BBCA kan memang bank lama yang sudah berpengalaman. Tinggal update sistem layanan aja untuk mempertahankan pangsa pasarnya," ujar Reza kepada MNC Portal Indonesia, Senin (18/10/2021).

Dengan banyaknya emiten perbankan yang melakukan aksi korporasi yang umumnya melakukan rights issue untuk meningkatkan ke layanan digital, dia menyebut hal yang harus diperhatikan investor adalah layanan digital seperti apa yang ditawarkan bank-bank tersebut kepada nasabahnya.

"Ke depan yang namanya digitalisasi akan menjadi sesuatu yang biasa atau umum dilakukan. Maka dari itu harus dilihat seperti apa inovasinya sehingga user friendly dan dapat memberikan added value tidak hanya buat nasabah tapi juga buat banknya," kata dia.

Reza juga berpendapat, saham perbankan tanpa harganya dipengaruhi aksi "pom-pom" saham sudah menarik di kalangan investor. Sebab, menurutnya saat ini hampir semua transaksi melalui bank.

"Ada e-wallet macam si Dana, OVO, Gopay, dan lain-lain, itu emang mereka simpen dananya dimana? Di bank juga kan. Jadi, kalau ada yang bilang ke depan ga butuh layanan bank, salah besar. Justru kehadiran mereka bisa nambah DPK dan itu bisa jadi bagian dari ekosistem perbankan," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini