Awal mula pengembangan biogas pihaknya bersama warga memanfaatkan alat seadanya. Bahkan reaktor biogasnya terbuat dari plastik, hal ini karena keterbatasan anggaran. Tapi seiring berjalannya waktu, bahan baku reaktor biogas dari plastik termakan usia sehingga kerap kali rusak. Inilah yang membuat warga akhirnya beralih ke reaktor biogas permanen.
Apalagi warga sudah merasakan manfaat dari pengembangan biogas selama 10 tahun lebih. eberapa warga yang mampu bahkan telah membuat reaktor biogas fix dome berbahan beton permanen. Jumlah reaktor pun terus bertambah, bila di tahun 2010 lalu misalnya ada 234 unit, di tahun 2021 ini reaktor yang berbahan beton permanen sudah mencapai 158 unit reaktor biogas beton, dengan harga mencapai Rp 40 juta dengan kapasitas 20 meter kubik dan 30 meter kubik. Jumlah itu belum termasuk reaktor biogas warga yang masih menggunakan bahan plastik.
"(Reaktor berbahan plastik) ada usia ekonomisnya, maksimal 5 tahun, kita jalan mulai tahun 2008 hampir 12 tahun berjalan, pastinya plastiknya banyak yang rusak. Akhirnya masyarakat yang sudah merasa mampu untuk membangun biogas dengan konstruksi beton banyak yang beralih ke beton, pakai fix dom, dibangun sudah mencapai 158 unit," ujar dia.
Manfaat besar menjadikan banyak warga di Dusun Bendrong, Desa Argosari kini memilih menggunakan biogas dari limbah kotoran sapi yang dikelola. Selain mampu menghemat pengeluaran untuk elpiji, kotoran sapi yang kerap bau dan menimbulkan persoalan lingkungan bisa sedikit teratasi.
"Dengan menggunakan biogas masyarakat merasa diuntungkan, karena sudah tidak lagi membeli elpiji, buktinya kalau mereka nggak merasa diuntungkan, pastinya mereka tidak membangun lagi kan gitu.
Ini malah membangun yang tipe permanen dengan beton, berarti mereka diuntungkan sehingga nanti dengan menggunakan biogas bisa mengurangi biaya kebutuhan perhari di rumah," katanya.
"Kalau secara hitungan ekonomis dibandingkan antara penggunaan gas elpiji dengan biogas memang relatif lebih murah biogas, kenapa karena masyarakat hanya butuh tenaga kerja untuk mengisi limbah itu, sehingga kalau dikonversikan diuangkan jatuhnya lebih murah biogas seandainya tenaga mereka dihargai," imbuhnya.
Manfaat yang didapat inilah membuat sejumlah warga lain berlomba membangun reaktor biogas dengan meminjam ke koperasi. Nantinya pembayaran tersebut akan diangsur melalui sistem pemotongan peras susu.
"Artinya koperasi menalangi dulu pembangunan biogas, nanti di angsurannya dipotong melalui peras susu. Jadi tergantung berapa potongannya tergantung kapasitasnya (susu yang disetorkan)," ungkap dia.