Share

Mitratel Bidik Dana IPO Rp24 Triliun, Bisnis Menara Diprediksi Moncer di Era 5G

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Kamis 11 November 2021 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 11 278 2500222 mitratel-bidik-dana-ipo-rp24-triliun-bisnis-menara-diprediksi-moncer-di-era-5g-xNcx5BO71h.jpg IPO Mitratel (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Aksi korporasi PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) melakukan penawaran publik saham perdana alias initial public offering (IPO) tinggal selangkah lagi.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Ririek Adriansyah mengungkapkan bahwa strategi go public bagi anak usahanya tersebut bakal memberikan keuntungan, baik dari segi valuasi hingga peningkatan harga saham TLKM.

"Inilah yang kita harapkan dan menjadi salah satu motif utama kita untuk meng-IPOkan Mitratel di samping beberapa alasan yang lain," kata Ririek dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Rabu (10/11/2021).

Baca Juga: Dinanti Investor, BEI Sebut IPO Mitratel Akan Cetak Rekor

Terkait harapan adanya peningkatan valuasi untuk grup Telkom, Ririek mencermati bahwa unlock Mitratel ke publik justru dapat mengekspos bisnis menara lebih luas.

Hal tersebut menurutnya lebih baik daripada Mitratel terkunci di bawah grup Telkom.

Ririek menghitung bahwa valuasi nilai perusahaan / enterprise value (EV) dengan EBITDA Telkom Group berada di bawah industri tower sebesar 5,4x. EV/EBITDA merupakan rasio untuk menghitung valuasi perusahaan.

"Tower ini secara valuasi lebih tinggi daripada telekomunikasi. Kira-kira kalau dari segi multiple EBITDAnya atau kalau dihitung dari pengkalian dari EBITDA perusahaan maka multiple tower ini hampir dua kali lipat dari telekomunikasi," lanjutnya.

Jadi saat ini, Telkom ada di value 5,4x, sedangkan Tower ada di 10-12x, ketika Tower ini kita keluarkan / unlock, maka harapan kita adalah valuenya bisa terekspos dan bisa lebih besar daripada kalau dia ada di dalam Telkom tanpa di unlock. Dengan demikian maka valuasi Telkom Group maka akan jadi lebih besar," katanya.

Peluang tumbuhnya valuasi grup Telkom, terang Ririek, dinilai cukup besar mengingat kondisi EV/EBITDA di sejumlah negara-negara maju bisa mencapai 20x. Menurutnya, IPO Mitratel perlu bagi pengembangan bisnis Telkom kedepannya, selain karena Telkom adalah pengendali dari Mitratel.

Mitratel akan menggelar IPO dengan menerbitkan maksimal sebanyak 25,5 miliar saham atau setara 29,85% dari modal yang ditempatkan dan disetor. Dengan range harga Rp775 - 975 per lembar saham, maka potensi proceed maksimal Rp19, 79 triliun - Rp24, 9 triliun.

Mitratel bakal menggunakan dana IPO ini sebanyak 44 persen untuk belanja modal seperti penambahan penguatan, penambahan menara telekomunikasi, pembangunan menara baru dan penambahan site baru, serta ekspansi ke teknologi dan layanan yang berkaitan dengan bisnis penyewaan menara.

Sementara 56 persen lainnya bakal dieksekusi untuk belanja modal anorganik, seperti mengakuisisi menara telekomunikasi dari operator telekomunikasi dan akuisisi strategis produk, teknologi, dan layanan baru.

Adapun sisanya bakal digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan kebutuhan peningkatan sistem teknologi informasi serta penerapan program pengembangan.

Target perolehan dana IPO tersebut termasuk salah satu yang terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika target dana IPO ini terealisasi maka kapitalisasi pasar Mitratel ini berpeluang mencapai Rp83,42 triliun atau mengungguli kapitalisasi pasar PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Perseroan telah menunjuk penjamin pelaksana emisi efek antara lain PT Mandiri Sekuritas dan PT BRI Danareksa Sekuritas.

Roadshow dan penawaran awal (bookbuilding) saham Mitratel dijadwalkan pada 26 Oktober – 4 November 2021. Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan terbit pada 12 November 2021. Setelah diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, penawaran umum akan dilaksanakan pada 16-18 November 2021 dan pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 November 2021.

Sementara itu, Mitratel berpeluang memacu pendapatan lantaran permintaan operator telekomunikasi terhadap menara telekomunikasi bakal meningkat di era 5G.

Mitratel mengelola menara telekomunikasi lebih dari 28.000 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah Menara telekomunikasi akan ditambah seiring dengan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Mitratel dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 29,85% saham kepada publik, Dana IPO ini antara lain dialokasikan Mitratel untuk membeli tower sebanyak 6.000 unit. 

Research Analyst PT Indopremier Sekuritas Hans Tantio mengatakan kebutuhan menara telekomunikasi berspektrum tinggi diprediksi meningkat di era 5G sehingga Mitratel berpotensi meningkatkan kinerja bisnis di masa mendatang.

"Kebutuhan tower dan spektrum tinggi akan meningkat, peluang bisnis untuk perusahaan penyedia tower komunikasi seperti Mitratel,” ujar Hans.

Hans berpendapat cakupan dan ketersediaan tower telekomunikasi Mitratel itu menjangkau wilayah di luar Pulau Jawa.

“Ketersediaan tower Mitratel di luar Pulau Jawa merupakan unique selling point yang membedakan Mitratel dengan kompetitornya. Saya meyakini kinerja fundamental Mitratel akan bertumbuh di era 5G,” ucap Hans. 

Mitratel pada 2020 membukukan pendapatan senilai Rp6,18 triliun, meningkat 16,16% dari tahun 2019 sebesar Rp5,32 triliun. Tren ini berlanjut di tahun 2021. Pada semester I/2021, pendapatan  senilai Rp3,22 triliun atau meningkat sebesar 10,65% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,91 triliun.

Pada Juni 2021 ini, perseroan mengantongi laba bersih senilai Rp700,7 miliar. Realisasi laba bersih ini melonjak sebesar 356% dari Rp153,7 miliar pada semester I/2020. 

Analis saham PT Verdana Sekuritas Raymond  Kosasih menyebutkan  penetrasi jumlah  menara  di Indonesia termasuk rendah dibandingkan beberapa negara, seperti Brasil atau India. Rasio populasi per menara di Indonesia masih termasuk yang tinggi di kisaran 2.250 dibandingkan Brasil dan India yang berkisar 2.100. 

“Dengan keterbatasan jumlah spektrum atau frekuensi, sehingga kebutuhan akan menara bakal tetap tinggi pada masa mendatang,” tutur Raymond.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini