Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mitratel Bidik Dana IPO Rp24 Triliun, Bisnis Menara Diprediksi Moncer di Era 5G

Dinar Fitra Maghiszha , Jurnalis-Kamis, 11 November 2021 |14:21 WIB
Mitratel Bidik Dana IPO Rp24 Triliun, Bisnis Menara Diprediksi Moncer di Era 5G
IPO Mitratel (Foto: Okezone.com)
A
A
A

Sementara itu, Mitratel berpeluang memacu pendapatan lantaran permintaan operator telekomunikasi terhadap menara telekomunikasi bakal meningkat di era 5G.

Mitratel mengelola menara telekomunikasi lebih dari 28.000 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah Menara telekomunikasi akan ditambah seiring dengan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Mitratel dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 29,85% saham kepada publik, Dana IPO ini antara lain dialokasikan Mitratel untuk membeli tower sebanyak 6.000 unit. 

Research Analyst PT Indopremier Sekuritas Hans Tantio mengatakan kebutuhan menara telekomunikasi berspektrum tinggi diprediksi meningkat di era 5G sehingga Mitratel berpotensi meningkatkan kinerja bisnis di masa mendatang.

"Kebutuhan tower dan spektrum tinggi akan meningkat, peluang bisnis untuk perusahaan penyedia tower komunikasi seperti Mitratel,” ujar Hans.

Hans berpendapat cakupan dan ketersediaan tower telekomunikasi Mitratel itu menjangkau wilayah di luar Pulau Jawa.

“Ketersediaan tower Mitratel di luar Pulau Jawa merupakan unique selling point yang membedakan Mitratel dengan kompetitornya. Saya meyakini kinerja fundamental Mitratel akan bertumbuh di era 5G,” ucap Hans. 

Mitratel pada 2020 membukukan pendapatan senilai Rp6,18 triliun, meningkat 16,16% dari tahun 2019 sebesar Rp5,32 triliun. Tren ini berlanjut di tahun 2021. Pada semester I/2021, pendapatan  senilai Rp3,22 triliun atau meningkat sebesar 10,65% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,91 triliun.

Pada Juni 2021 ini, perseroan mengantongi laba bersih senilai Rp700,7 miliar. Realisasi laba bersih ini melonjak sebesar 356% dari Rp153,7 miliar pada semester I/2020. 

Analis saham PT Verdana Sekuritas Raymond  Kosasih menyebutkan  penetrasi jumlah  menara  di Indonesia termasuk rendah dibandingkan beberapa negara, seperti Brasil atau India. Rasio populasi per menara di Indonesia masih termasuk yang tinggi di kisaran 2.250 dibandingkan Brasil dan India yang berkisar 2.100. 

“Dengan keterbatasan jumlah spektrum atau frekuensi, sehingga kebutuhan akan menara bakal tetap tinggi pada masa mendatang,” tutur Raymond.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement