Share

Laba Bukit Asam Rp7 Triliun, Dirut: Ini Keuntungan Tertinggi

Senin 13 Desember 2021 12:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 13 278 2516170 laba-bukit-asam-rp7-triliun-dirut-ini-keuntungan-tertinggi-x8RwNywcHn.jpg Laba Bukit Asam Meningkat. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba sebesar Rp7 triliun pada kuartal III-2021. Laba bersih ini didukung pendapatan usaha sebesar Rp26,2 triliun.

Total aset perseroan pun sebesar Rp24,1 triliun per 31 Desember 2020 menjadi sebesar Rp 35,2 triliun per 30 November 2021 atau naik 46%.

Direktur Utama Bukit Asam Suryo Eko mengatakan, kinerja penjualan batu bara yang tengah menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah dalam tahun ini turut membuat performa perseroan menjadi melejit sepanjang tahun ini.

"Sampai dengan November saja Bukit Asam sudah bisa membukukan keuntungan Rp7 triliun ini keuntungan tertinggi yang pernah dicapai seumur hidupnya Bukit Asam," ujarnya, dikutip dari Harian Neraca, Senin (13/12/2021).

Baca Juga: Bukit Asam Cetak Kenaikan Laba Rp4,7 Triliun, Meroket 176%

Disampaikannya, perseroan terus memantau fluktuasi harga komoditas batu bara dengan memanfaatkan momentum kenaikan harga secara optimal, sekaligus tetap berwaspada untuk menjaga kinerja perusahaan. Di sisi lain PTBA tetap melakukan upaya efisiensi secara berkelanjutan di setiap lini kegiatan, sebagai langkah antisipasi menghadapi volatilitas harga batu bara.

"Sehingga, apabila terjadi penurunan harga tidak berdampak signifikan pada kinerja perseroan dan tetap dapat membukukan kinerja positif," ungkapnya.

Dari sisi produksi, realisasi produksi batu bara PTBA sampai dengan 30 November 2021 mencapai 28,0 juta ton dengan penjualan sebanyak 25,8 juta ton. Perseroan menargetkan kenaikan volume produksi batu bara dari 24,8 juta ton pada tahun 2020 menjadi 30 juta ton pada 2021. PTBA juga menargetkan kenaikan porsi ekspor batu bara sebagai upaya pemanfaatan momentum kenaikan harga batu bara internasional.

Perseroan menargetkan porsi ekspor batu bara hingga akhir 2021 bisa mencapai hingga 47%.

Baca Juga: PTBA Habiskan Capex Lebih dari 50%, untuk Apa Saja?

"PTBA memastikan kegiatan operasional pertambangan dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat, sehingga aktivitas produksi dan penjualan dapat berjalan optimal dan aman," jelasnya.

Dia menilai kondisi tingginya harga batu bara akan berlangsung sampai dengan tahun depan. Menurutnya, harga batu bara yang tinggi masih akan tetap terjaga pada 2022.

"Saat ini kami punya keyakinan seperti itu, kami punya keyakinan performance Bukit Asam sangat baik dengan harga yang saat ini," ungkapnya.

Baca Juga: KKP Selamatkan Kerugian Negara Sebesar Rp30 Miliar dari Tindak Penyelundupan BBL

Adanya keuntungan yang tinggi, lanjut Suryo, dapat dijadikan acuan untuk pengembangan usaha di masa mendatang, terutama dalam menunjang rencana transformasi bisnis perusahaan dari bisnis batu bara ke bisnis Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

“Laba ini menjadi keuntungan tertinggi selama PTBA berdiri, sedangkan EBITDA (ukuran kinerja keuangan perusahaan) sudah tembus Rp10 triliun,” kata Suryo.

Secara praktis dengan EBITDA Rp10 triliun itu, dia melanjutkan, maka perusahaan bisa menarik pinjaman sekitar Rp50-Rp60 triliun untuk digunakan dalam menopang rencana bisnis di masa datang. Dengan begitu, PTBA sama sekali tidak memiliki keraguan untuk kesiapan dana dalam pengembangan bisnis terutama dalam merambah bisnis energi tahun 2026.

Anggota dari holding BUMN pertambangan MIND ID telah menyiapkan langkah dan strategi untuk mewujudkan visi menjadi perusahaan energi dan kimia kelas dunia yang peduli lingkungan. Transformasi ini dilakukan untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060 sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo dan meningkatkan kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini