JAKARTA - Indeks dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya di akhir transaksi Senin (Selasa pagi WIB). Dolar AS kokoh di hari perdagangan pertama tahun baru, sejalan dengan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah karena investor mengantisipasi Federal Reserve akan tetap berada di jalur kenaikan suku bunganya pada 2022.
Sementara lonjakan kasus virus corona yang disebabkan oleh varian Omicron terus berdampak pada perjalanan global dan layanan publik, investor tetap optimis bahwa penguncian akan dapat dihindari.
Baca Juga: Dolar AS Sedikit Menguat, Investor Harap Suku Bunga Fed Segera Dinaikan
Pada Senin (3/1), Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mengizinkan penggunaan dosis ketiga vaksin Pfizer dan BioNTech COVID-19 untuk anak-anak berusia antara 12 tahun hingga 15 tahun, dan mempersempit waktu untuk semua suntikan booster menjadi lima bulan dari enam bulan setelah dosis primer.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga, bersama dengan obligasi lima tahun, melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2020. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang jadi acuan dan imbal hasil obligasi AS lima tahun naik ke puncak enam minggu. Bank sentral AS diperkirakan akan mulai menaikkan suku bunga pada pertengahan 2022.
Baca Juga: Indeks Dolar AS Tergelincir Tertekan Penguatan Euro
"Pasar pada umumnya memiliki rentang perhatian yang pendek dalam hal apa pun yang terkait dengan COVID dan pasar sudah seperti ini sejak awal," kata Erik Bregar, presiden dan CEO di Bregar Capital Corp di Toronto.
"Saya tidak merasakan getaran risk-off (penghindaran risiko) hari ini karena minyak stabil, saham masih hijau ... saat ini imbal hasil adalah pendorongnya."