Share

Inflasi AS Capai 7%, Tertinggi sejak 1982

Agregasi VOA, Jurnalis · Kamis 13 Januari 2022 16:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 13 320 2531742 inflasi-as-capai-7-tertinggi-sejak-1982-ZSSmf3vsMk.jpg Inflasi AS tertinggi sejak 40 tahun (Foto: Okezone)

JAKARTA – Laju inflasi di Amerika Serikat pada Desember mencapai 7%. Inflasi melonjak ke level tertinggi selama 40 tahun. Inflasi membuat pengeluaran rumah tangga, memangkas pendapatan meningkat.

Kenaikan inflasi juga menekan Presiden Joe Biden dan Bank Sentral untuk mengantispasi ancaman terbesar perekonomian Amerika. Harga bahan pangan, kendaraan, bahan bakar minyak (BBM) dan perabot rumah tangga melonjak tajam selama 2021 sebagai bagian dari upaya pemulihan cepat dari resesi yang diakibatkan pandemi COVID-19.

Baca Juga: Wall Street Menguat, Inflasi AS Capai 7% Sepanjang 2021

Bantuan pemerintah yang diberikan secara luas serta suku bunga yang rendah telah membantu meningkatkan daya beli para warga, di saat yang bersamaan pengadaan program vaksinasi juga memberikan kepercayaan bagi orang-orang untuk makan di luar dan bepergian.

Ketika daya beli warga Amerika semakin meningkat, rantai pasokan terganggu karena kekurangan pekerja dan bahan pasokan yang mengakibatkan harga-harga bahan pokok melonjak tinggi. Ekonom senior di lembaga Nationwide mengatakan pada kantor berita Associated Press bahwa inflasi pada akhir tahun 2021 sangat panas.

“Menambahkan harga-harga mungkin akan turun seiring mulai teratasinya masalah pada rantai pasokan tetapi inflasi masih akan tetap tinggi pada tahun 2022 ini,” katanya dilansir dari VOA, Kamis (13/1/2022).

Baca Juga: Inflasi AS Meningkat 0,5%, Dolar Semakin Tertekan

Departemen Tenaga Kerja pada Rabu (12/1) melaporkan faktor-faktor dalam inflasi yang tidak mencakup harga makanan dan BBM yang mudah berubah, telah melonjak menjadi 5,5% pada Desember lalu – kenaikan tercepat sejak tahun 1991. Inflasi naik sebesar 0,5% secara keseluruhan pada bulan November, turun dari 0,8% pada bulan Oktober.

Nicole Pomije, pemilik toko roti di Minnesota, mengatakan ia menaikkan harga kue kering karena melonjaknya harga mentega dan bahan-bahan lain. Harga kue kering yang umumnya hanya 99 sen dan harga kue kering dengan coklat putih yang biasanya 1 dolar 50 sen, kini harus dinaikkan.

“Kita harus tetap menghasilkan uang,” ujarnya. “Kami adalah bisnis, tapi kami tidak ingin kehilangan pelanggan kami. Tapi saya pikir kami mungkin akan kehilangan pelanggan karena menaikkan harga,” tambah Pomije.

Kenaikan harga telah menghapus selisih kenaikan gaji yang diterima oleh banyak warga Amerika, semakin menyulitkan banyak rumah tangga – terutama keluarga berpendapatan rendah – untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Jajak pendapat menunjukkan inflasi telah mulai menjadi perhatian serius publik, dan isu ini semakin menjadi ancaman politik bagi Presiden Biden dan anggota-anggota Kongres dari Partai Demokrat.

Sebagian besar inflasi masih didorong oleh ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran akibat pandemi. Harga mobil bekas misalnya selama setahun terakhir ini telah melonjak lebih dari 37% karena pembatasan produksi mobil baru akibat kekurangan semikonduktor. Harga mobil baru melonjak sebesar 1% pada bulan Desember, setelah sebelumnya melonjak 11,8% pada tahun lalu.

Biaya pakaian naik 1,7% pada bulan Desember, bulan kedua terjadinya kenaikan tajam – dan naik 5,8% dibanding tahun lalu.

Warga sedikit bernafas lega dengan turunnya harga BBM 0,5% pada bulan Desember, namun harga tersebut masih 50% lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Sebagian besar ekonom memperkirakan inflasi akan menurun setelah berlalunya gelombang varian Omicron dan ketika warga Amerika kembali mengalihkan pengeluaran mereka pada layanan seperti perjalanan, makan di luar atau nonton film di bioskop. Hal ini akan mengurangi permintaan pada barang dan membantu mengurangi tekanan terhadap rantai pasokan yang tampaknya masih belum pulih benar. [em/jm]

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini