Share

Hebat! 70 Ribu Warga Sumut Berhasil Keluar dari Kemiskinan

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Jum'at 04 Februari 2022 10:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 04 320 2542234 hebat-70-ribu-warga-sumut-berhasil-keluar-dari-kemiskinan-euVO2iOsDe.jpg 70 ribu warga Sumut keluar dari kemiskinan

MEDAN - Lebih dari 70 ribu penduduk di Sumatera Utara (Sumut) dilaporkan telah keluar dari kemiskinan.

Laporan itu didapat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut.

Jumlah penduduk miskin di Sumut pada September 2021 mencapai 1,27 jiwa. Hal itu ternyata menurun lebih dari 70 ribu jiwa dibandingkan pada Maret 2021.

"Secara persentase, pada Maret 2021 persentase penduduk miskin kita mencapai 9,01%. Sementara di September 2021 hanya 8,49%. Sehingga terjadi penurunan 0,52%," kata Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Sumatra Utara Azantaro, Medan, Jumat (4/2/2022).

 BACA JUGA:Ketua DPD RI: Pemerintah Harus Ambil Langkah Konkret Entaskan Kemiskinan

Azantaro memaparkan, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat sebesar 8,68 persen pada September 2021 lalu. Sedangkan di daerah pedesaan sebesar 8,26 persen.

Untuk daerah perkotaan, persentase penduduk miskin tercatat mengalami penurunan sebesar 0,47 poin jika dibandingkan Maret 2021. Sedangkan daerah pedesaan berkurang sebesar 0,58 poin.

Garis Kemiskinan pada September 2021 tercatat sebesar Rp537.310,00 per kapita per bulan.

 BACA JUGA:Tingkat Kemiskinan Menurun, di Perkotaan Masih Tinggi

Jumlah ini terdiri atas komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp404.860,00 atau 75,35 persen dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp132.451,00 atau 24,65 persen.

Pada periode Maret 2021 hingga September 2021, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) menunjukkan penurunan.

Sebaliknya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) sedikit meningkat.

"P1 turun dari 1,522 pada Maret 2021 menjadi 1,450 pada September 2021. Sedangkan P2 naik dari 0,376 menjadi 0,382," paparnya.

Menurut Azantaro, hal itu mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung meningkat dan semakin mendekati garis kemiskinan.

Penurunan kedalaman kemiskinan juga terjadi pada Maret 2021 lalu.

"Keadaan sebaliknya pada tingkat ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin sedikit meningkat, dimana pada periode Maret 2021 sempat menurun," ucapnya.

Azantaro menjelaskan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach untuk mengukur tingkat kemiskinan di Sumatra Utara.

"Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan," jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan catatan BPS, terdapat beberapa faktor yang diduga mempengaruhi tingkat kemiskinan di Sumatra Utara pada periode Maret-September 2021.

Faktor pertama adalah pandemi Covid-19 yang berkelanjutan.

Hal ini sangat berdampak pada perubahan perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk, sehingga mempengaruhi angka kemiskinan.

"Tetapi pada September 2021 mulai menunjukkan perbaikan," kata Azantaro.

Faktor kedua adalah pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara.

Perkonomian Sumatra Utara Triwulan III 2020 terhadap Triwulan IV 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 3,67 persen (yoy). Angka ini jauh meningkat dibanding capaian Triwulan III 2020 yang pertumbuhannya terkontraksi sebesar 2,6 persen (yoy).

Faktor ketiga adalah inflasi. Selama periode Maret-September 2021, angka inflasi umum tercatat sebesar 0,82 persen.

Sedangkan faktor yang terakhir adalah catatan pengeluaran konsumsi rumah tangga pada Triwulan III 2021 yang tumbuh sebesar 3,26 persen.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini