Share

Pengrajin Tahu Tempe Gelisah Harga Kedelai Tak Stabil sampai Lima Kali Naik

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Minggu 13 Februari 2022 10:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 13 320 2546449 pengrajin-tahu-tempe-gelisah-harga-kedelai-tak-stabil-sampai-lima-kali-naik-WuwIzeeWxR.jpg Pengrajin Tempe Tahu Keluhkan Harga Kedelai. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Harga kedelai tidak stabil dalam sepekan terakhir. Hal ini mengakibatkan beberapa pengrajin tahu tempe sampai ada yang tutup produksi.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengungkapkan, belakangan ini harga kedelai di tingkat importir naik hingga 1-3 kali setiap minggunya. Bahkan dikatakannya, pernah dalam satu minggu naiknya bisa sampai lima kali.

Baca Juga: Jangan Kaget! Harga Tahu dan Tempe Bakal Naik hingga Juli 2022 Jadi Segini

"Harga kedelai impor belakangan ini naik. Pernah waktu itu dalam sepekan (harga kedelai) naiknya sampai lima kali. Pak Dirjen, tolong lah harganya dibuat stabil, setidaknya minimal sekali sebulan," ujar Aip dalam konferensi pers, dikutip Minggu (13/2/2022).

Aip menjelaskan, harga yang mengalami fluktuasi itu mengakibatkan pengrajin tahu tempe galau untuk melanjutkan produksinya. Alhasil tidak sedikit dari para pengrajin akhirnya memutuskan menutup rumah produksinya.

Baca Juga: Harga Kedelai Meroket, Kini Tempe di Pasar Mengecil

"Sebelumnya terdapat kita punya sekitar 195 ribu pengrajin tahu tempe skala rumahan. Tapi sekarang realitanya ada sekitar 20 persen atau 30 ribu pengrajin berhenti produksi akibat fluktuasi harga kedelai yang tinggi. Mereka yang berhenti produksi umumnya yang menggunakan kedelai sekitar 10 sampi 20 kg per hari," bebernya.

Aip mengungkapkan, para pengrajin yang mampu bertahan di situasi seperti ini adalah pengrajin skala besar. Artinya, dalam memproduksi tahu tempe, mereka mampu mengolah kedelai dengan berat 100 kg per hari.

Baca Juga: 50 Tahun Berkarya, Indomie Konsisten Hidupkan Inspirasi Indomie untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Diterangkan dia, para pengrajin skala besar itu mau tidak mau mengambil strategi agar tetap untung, yakni dengan mengurangi ukuran tahu tempe dari biasanya.

"Itu yang membuat mereka akhirnya tidak bisa berusaha terus menerus. Kalau yang jumlahnya di atas 100 kilo atau lebih besar itu bisa dikurang-kurangi produksinya dan kadang-kadang juga ukurannya dikurangi untuk mencegah ini," ucap Aip

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini