Share

Sumber Kekayaan Li Ka-shing, Pernah Hidup Miskin Kini Jadi Kakek Super Tajir Berharta Rp514 Triliun

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Kamis 24 Februari 2022 10:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 24 455 2552264 sumber-kekayaan-li-ka-shing-pernah-hidup-miskin-kini-jadi-kakek-super-tajir-berharta-rp514-triliun-KqTKJi7Sor.png Sumber Kekayaan Li ka-shing (Foto: Visual China Group/Getty Images)

JAKARTA - Li Ka-shing masih menjadi orang terkaya di Hong Kong tahun 2022 versi Forbes. Harta kekayaan Li Ka-shing mencapai USD36 miliar atau setara Rp514,8 triliun.

Dia dijuluki Superman, Li Ka-shing dipuja sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di Asia.

Li pensiun sebagai ketua CK Hutchison Holdings dan CK Asset Holdings pada Mei 2018 tetapi tetap menjadi penasihat senior. Saat mengumumkan pengunduran dirinya, Li bercanda bahwa dia telah "bekerja untuk waktu yang lama, terlalu lama."

Dia memiliki bisnis yang terlibat dalam berbagai bidang seperti real estat, pelabuhan, listrik, telekomunikasi, dan internet. Namun, di balik pengaruh kuatnya di dunia ekonomi, Li hanyalah seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarga pada masa lalu.

 

Baca Juga: Daftar 10 Orang Terkaya Hong Kong 2022, Li Ka-Shing Juaranya Berharta Rp514 Triliun

Sebelum menjadi orang terkaya di Hong Kong, Li Ka-shing yang kini berusia 93 tahun pernah hidup miskin.

Lahir dari keluarga miskin di Chaozhou, Provinsi Guangdong, China, pada 29 Juli 1928, ayahnya merupakan seorang guru sebuah sekolah dasar setempat.

Dia tumbuh ketika terjadi kekacauan politik besar di China sehingga mengharuskan keluarganya melarikan diri ke Hong Kong pada 1940 setelah invasi Jepang ke China. Datang dengan modal yang sangat minim, mereka harus berjuang untuk membangun kembali kehidupan di lingkungan baru tersebut.

Namun, kehidupan berkata lain. Habis jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang terjadi pada keluarga Li. Sebuah tragedi besar lainnya menimpa keluarga mereka dalam rentang waktu tiga tahun. Ayahnya sakit karena tuberkulosis (TB) dan meninggal saat Li Ka-shing baru berusia 15 tahun.

Li pun terpaksa putus sekolah dan mengambil pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dia mulai bekerja di sebuah perusahaan perdagangan plastik sebagai salesman yang menjual arloji dan ikat pinggang plastik. Ia bekerja sangat keras hingga 16 jam sehari dan terbukti menjadi salesman yang cakap.

Dalam sebuah wawancaranya dengan Forbes, dia mengatakan bahwa pengalaman paling mengerikannya selama masa kanak-kanak adalah ketika dia harus menyaksikan ayahnya menderita dan akhirnya meninggal karena TB.

Menurutnya, kematian ayahnya membuat ia cukup terpukul dan trauma. Kemiskinan dan rasa ketidakberdayaan serta isolasi mendatangkan pertanyaan mungkinkah membentuk kembali takdir seseorang? Dan apakah mungkin untuk meningkatkan peluang sukses melalui perencanaan yang teliti?

Setelah mendapatkan cukup pengalaman dalam industri plastik, Li kemudian membentuk bisnisnya sendiri, sebuah perusahaan plastik bernama Cheung Kong pada 1950. Awalnya, perusahaan tersebut memproduksi bunga buatan dan mengekspornya ke Amerika Serikat.

Sepanjang periode 1950-an, perusahaan ini mencatatkan pertumbuhan yang solid dan Li pun mulai mencari peluang untuk mengembangkan bisnisnya. Dia membeli pabrik pertamanya pada 1958 dan menjadi fondasi untuk investasi real estatnya.

Booming properti selama tahun-tahun berikutnya, membuatnya mengubah fokus bisnis plastik menjadi perusahaan pengembangan properti dan manajemen.

Bisnisnya pun berkembang pesat pada tahun-tahun berikutnya dan perusahaan ini berganti nama menjadi Cheung Kong Holdings pada 1971. Setahun kemudian, ia mendaftarkan perusahaannya ke Bursa Hong Kong.

Dia kembali memperluas bisnisnya dengan mengakuisisi Hutchison Whampoa dari HSBC pada 1979. Dia kemudian mengubah Hutchison menjadi operator pelabuhan independen terbesar di dunia dengan investasi fasilitas pelabuhan kontainer di seluruh dunia, termasuk di Hong Kong, Kanada, China, Inggris, Rotterdam, Panama, Bahama, dan banyak pelabuhan lainnya.

Tidak berhenti sampai di situ, Li juga terjun ke bisnis teknologi. Salah satu firmanya, Horizons Ventures, perusahaan investasi dan modal ventura, dibuat secara khusus untuk memberikan investasi pada perusahaan startup internet dan teknologi yang baru berkembang. Dia juga memiliki 0,8% saham di situs jejaring sosial Facebook melalui perusahaan lainnya, Li Ka Shing Foundation. Dia juga memiliki saham di Ginger Software Incorporated.

Li mengungkapkan, mengelola sebuah keluarga dengan anggaran yang ketat memang menjadi pekerjaan yang sulit, namun mengelola perusahaan dengan arus kas yang ketat jauh lebih sulit. Oleh karena itu, dia pun selalu menjaga agar arus kas perusahaannya tetap stabil dengan cadangan tinggi dan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat.

Bahkan ketika dia melakukan diversifikasi ke properti dan kemudian menjadi bisnis multinasional, dia harus tetap waspada dalam mempertahankan rasio utang terhadap ekuitas yang sehat, sehingga margin kesalahan dapat ditekan. Dengan metode bisnis tersebut, dia pun tidak terancam oleh 'pasang surut' di pasar atau ketidakstabilan ekonomi global.

Selain itu, cadangan kas yang tinggi juga memungkinkan dia memanfaatkan peluang investasi tepat waktu. Meskipun,harus menanggung investasi berat seperti bisnis 3G global, dia masih bisa mengelola dengan hati-hati dan memberikan keuntungan setiap tahun selama 60 tahun terakhir.

Saat ini, perusahaan Li merupakan salah satu konglomerat multinasional Hong Kong terkemuka yang beroperasi di lebih dari 50 negara dan mempekerjakan lebih dari 240.000 staf di seluruh dunia. Magnet bisnisnya ini membuatnya dijuluki ‘Superman’ di Hong Kong. Sebab, ia mampu membalikkan masa lalunya yang kelam menjadi kerajaan bisnis terbesar di Hong Kong.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini