Share

Proyek Smelter Mempawah Bikin Mind ID Rugi, Simak Penyebabnya!

Suparjo Ramalan, iNews · Senin 21 Maret 2022 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 21 320 2565308 proyek-smelter-mempawah-bikin-mind-id-rugi-simak-penyebabnya-Jg5mM0VmSH.jpg Proyek Smelter Bikin Mind ID Rugi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Holding BUMN Pertambangan atau MIND ID mencatat kerugian akibat terhambatnya proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Perkaranya, proyek pemurnian ini masuk sebagai investasi yang mundur.

Direktur Operasi dan Portofolio MIND ID Danny Praditya menjelaskan, kerugian disebabkan adanya pengeluaran biaya tetap (fixed cost) setiap bulannya. Sementara, SGAR masih tetap stagnan. Meski begitu, Danny enggan menyebut nominal kerugian yang dicatatkan manajemen saat ini.

Baca Juga: Smelter Freeport Disetrum Listrik PLN, Kapan Beroperasinya?

"Bagi MIND ID, ini juga menimbulkan kerugian yang signifikan, proyek ini investasi, PSN bahwa kita juga mengalami kerugian tidak hanya karena investasi yang mundur, tapi juga fixed cost yang harus kita keluarkan setiap bulan dari delay project," ungkap Danny saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Senin (21/3/2022).

Danny mengaku SGAR terhambat akibat sejumlah persoalan. Konstruksi proyek yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai proyek strategi nasional ini (PSN) harusnya mencapai 71 persen, namun kondisi aktual di lapangan baru 13,7 persen.

"Yang seharusnya sekarang sudah selesai di 71 persen, tetapi sekrang delay, actualnya masih 13,7 persen, jadi cukup signifikan," ungkap dia.

Baca Juga: Mangkrak Bertahun-tahun, Smelter Antam di Halmahera Timur Beroperasi Akhir 2022

Perkara lain, terhambatnya proyek smelter ini membuat PT Inalum (Persero) tetap bergantung terhadap impor alumina dari Australia dan India. Adapun ketergantungan impor alumina mencapai 500.000 ton per tahunnya.

Padahal, SGAR mampu memproduksi alumina hingga 1 juta ton pertahun. Artinya, dengan hasil produksi smelter di bawah pengelolaan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) selaku konsorsium dari Inalum dan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk ini, mampu memenuhi kebutuhan perseroan.

"Kapasitas dari smelter mempawah ini kapasitasnya 1 juta ton berarti 500.000 ton akan cukup memenuhi kebutuhan inalum dan 500.000-nya kita bisa ekspor jadi kebutuhan smelter bisa dijalankan termasuk offtaker dari bauksit," ungkapnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Danny memastikan, bila proyek smelter di Mempawah ini tak kunjung selesai, maka Inalum akan tetap bergantung pada supply alumina dari dua negara asing tersebut.

Dalam kesempatan itu, Komisi VII DPR RI akan melakukan pendalaman ihwal keterlambatan penyelesaian proyek Smelter Grade Alumina Refinery di Mempawah, Kalimantan Barat. Komisi akan melihat persoalan ini dari sisi hukum.

Wakil Ketua Komisi VII, Maman Abdurrahman menyebut proses pendalaman tersebut untuk melihat ada tidaknya praktek tindak pidana (korupsi) yang menghambat pembangunan proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

"Dan perlu dipahami berdasarkan hasil pendalam kita ternyata ditemukan indikasi pidana, kita akan proses pada tingkat kan lebih lanjut. Ini tolong dipahami Pak, kalau misalnya ada potensi indikasi pidana kita akan dorong pada pihak yang berwenang," ungkap Maman.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini