Share

Menghitung Logam Tanah Jarang yang Jadi 'Harta Karun' Tersembunyi di RI

Antara, Jurnalis · Senin 11 April 2022 14:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 11 320 2576973 menghitung-logam-tanah-jarang-yang-jadi-harta-karun-tersembunyi-di-ri-zT3sQYMbQh.jpeg Pemerintah hitung cadangan logam tanah jarang yang tersimpan di RI (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Kementerian Perindustrian menilai Logam Tanah Jarang (LTJ) merupakan merupakan "vitamin" industri. Untuk itu, Kemenperin akan menghitung cadangannya di dalam negeri dan dibuat peta jalan.

"Logam tanah jarang ini sangat krusial dan menggunakan teknologi tinggi. Penting bagaimana Indonesia menyikapi hal ini. Kalau dari kacamata industri, LTJ adalah vitamin industri. Dia dikatakan jarang tapi secara material dia melimpah di mana-mana," kata Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin Taufiek Bawazie saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (11/4/2022).

Baca Juga: Wow! 'Harta Karun' Super Langka Rebutan Dunia Tersebar di RI, Cek Lokasinya

Taufiek menyampaikan dibutuhkan ilmu pengetahuan tinggi dan kemampuan teknologi untuk mengekstraksi logam tanah jarang, karena unsur tanah jarang itu tidak langsung menyatu besar dalam material, tapi hanya bagian kecil.

Namun hal tersebut bukan tidak mungkin dikembangkan jika Indonesia memiliki peta jalan yang kuat untuk menggali, mengeksplorasi, dan mengekstraksi logam tanah jarang.

Sebagaimana di dunia, lanjut Taufiek, beberapa negara telah menghitung cadangan logam tanah jarang mereka, di antaranya China yang memiliki 44 juta ton, Vietnam 22 juta ton, Brazil 21 juta ton, India 6,9 juta ton, dan Amerika Serikat 1,5 juta ton.

Baca Juga: Indonesia 'Raja' Nikel Dunia, Ini Buktinya

"Itu terkuantifikasi, yang artinya mereka sudah tahu estimasi berapa yang harus masuk (investasi) di dalam proses untuk ekstraksi daripada LTJ," ujar Taufiek.

Menghitung cadangan logam tanah jarang juga dipandang penting agar Indonesia mengetahui titik dan posisi mana yang dapat diekstraksi di dalam proses untuk menghasilkannya.

Taufiek mengatakan Kemenperin saat ini telah mempersiapkan peta jalan untuk pengembangan logam tanah jarang, karena dari fungsinya sangat strategis untuk industri pertahanan, medis, dan teknologi hijau ke depannya.

Untuk industri kesehatan sendiri, komoditas tersebut bermanfaat untuk memproduksi alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan sinar laser karena kekuatan optik.

Sedangkan, untuk teknologi hijau, Indonesia masih mengimpor 1 juta dolar AS untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun ke depannya, Kemenperin mengantisipasi peningkatan kebutuhan yang lebih tinggi.

"Nah ini kami sudah petakan dan akan berusaha memasukkan regulasinya. Jadi, banyak magnet dan katalis, serta ada juga kebutuhan industri secara khusus di sana. Kami sudah petakan semua," ungkap Taufiek.

Kendati demikian, Taufiek menyampaikan peta jalan itu tidak bisa bekerja dengan baik tanpa adanya kekuatan cadangan logam tanah jarang itu sendiri dan industri yang memang fokus di bidang pertambangan tanah jarang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini