NEW YORK - Harga minyak mentah balik menguat setelah kekhawatiran melemahnya permintaan. Di mana data pabrik di China mengalami penurunan dan potensi larangan Eropa terhadap minyak Rusia yang memicu kekhawatiran pengetatan pasokan.
Minyak mentah AS menetap pada level USD105,17 per barel untuk kenaikan 0,46% hari ini. Sementara Brent naik 0,41% menjadi menetap USD107,58 dolar AS per barel. Demikian dilansir dari Reuters, Selasa (3/5/2022).
Baca Juga: Harga Minyak Merosot 4,1% akibat Peningkatan Covid-19 di Shanghai
Sebelumnya, kedua kontrak acuan ditutup pada level terendah sejak 11 April setelah kehilangan hampir 5,0% minggu lalu. Sejak melonjak ke level tertinggi sejak 2008 pada awal Maret, harga minyak telah jatuh sekitar 25 persen.
"Prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat tahun ini di tengah kenaikan suku bunga AS telah menyebabkan revisi turun perkiraan permintaan minyak. Semakin lama perang Ukraina dan penguncian China tetap ada, semakin tinggi risiko bahwa pertumbuhan permintaan akan semakin lemah," ujar Analis di Konsultan Eurasia Group.
Baca Juga: Naik 1,4%, Minyak Brent Dipatok USD108/Barel
Pelemahan harga minyak juga karena investor menilai dampak Covid-19 pada prospek permintaan bahan bakar. Penguncian Covid-19 di Shanghai memasuki ke minggu keempat, ketika perintah untuk pengujian massal di distrik terbesar Beijing memicu kekhawatiran bahwa ibu kota China dapat ditakdirkan untuk nasib yang sama.