Share

Startup PHK Massal, Rhenald Khasali: Upaya Menyehatkan Perusahaan

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 08 Juni 2022 19:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 08 320 2608122 statup-phk-massal-rhenald-khasali-upaya-menyehatkan-perusahaan-QokCsVl1AB.JPG Rhenald Khasali soal startup PHK massal

JAKARTA - Banyak startup atau perusahaan rintisan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Menurut Akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali upaya tersebut dilakukan guna menyehatkan kembali kondisi perusahaan.

Prof Rhenald menilai bahwa startup sedang berada dalam fase bubble burst tidak tepat. Pasalnya tidak semua startup mengalami masalah dan ternyata ada startup yang ternyata tumbuh.

"Berapa karyawan kena PHK atau perusahaan melakukan restrukturisasi sebagai penajaman bisnsi. Seperti Gojek menutup lini bisnis Go Massage, Go Clean. Apakah Gojek berakhir dengan menutup itu? Apakah investornya mundur, kan tidak," kata Prof Rhenald, dalam akun YouTubenya, Rabu (8/6/2022).

 BACA JUGA:Cerita Pedih Karyawan Startup Tidak Digaji hingga 5 Bulan

Menurutnya, setelah dua lini bisnis Gojek tersebut dihilangkan, sekarang perusahaan terus berkembang dan bahkan sudah Go Public. Tentu, katanya, penghilangan lini bisnis ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan.

"Jadi perjalanan sebuah usaha harus dibaca dengan hati-hati," jelasnya.

Begitu juga, lanjut Rhenald, dalam masalah startup yang dikatakan melakukan PHK massal. Line misalnya disebutkan melakukan PHK 80 orang. Tapi, perusahaan membantah kabar tersebut dengan menyampaikan menutup bidang usaha tertentu dan fokus pada alat pembayaran.

"Apakah nanti alat pembayaran sukses belum tentu juga. Tapi dia harus melakukan berbagai upaya supaya dia bisa bermigrasi, kalau tidak berhasil baru menemukan kegagalan," ucapnya.

Lalu ada TaniHub yang juga melakukan PHK, padahal hanya menutup 2 gudang di Bali dan Bandung karena tidak efisien lagi. Jadi, TaniHub mengalihkan bisnis dari B2C jadi B2B.

Begitu juga dengan JD.ID yang juga mengurangi jumlah pekerjanya. JD.ID membantah tidak melakukan PHK tapi melakukan improvisasi. Link Aja juga mengatakan hanya mengurangi ratusan, tapi beritanya bombastis sekali.

Sebenarnya, kata Rhenald melihat kabar PHK startup tak sebanding dengan besarnya korban PHK karena pandmei. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat ada 2,8 juta orang terdampak pandemi. Kementerian Keuangan mencatat lebih besar lagi jumlah orang terdampak mencapai 5 juta.

"Menurut Kadin disebutkan 15 juta orang terdampak pandemi. Jadi ini jumlahnya lebih banyak lagi," ujarnya.

Selain itu, bila dibandingkan perusahaan lain yang melakukan PHK terntu besarannya lebih banyak dari startup. Misalnya, General Electric (GE) melakukan 40-50 ribu orang. Kemudian Unilever mem-PHK 2.500 pekerja di seluruh dunia.

"Itupun masih kecil dibanding jumlah karyawannya di di dunia. Sudah lupakah kita dengan Garuda Indonsia PHLK 6.600 karyawan. Kemudiaan ada pabrik mobil DFSK, Aibnb 1.900 PHK. Kemudian Giant," tuturnya.

Dari data tersebut bisa dilihat bahwa sebenarnya bukan hanya startup yang melakukan PHK. Tapi semua perusahaan melakukan PHK bahkan jumlahnya lebih besar.

"Jadi mereka survive maka mereka pantas mengurangi sejumlah lini usaha. Yang melakaukan PHK ada perusahaan-perusahaan yang ingin menyehatkan kembali dirinya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini