Dia menjelaskan penambahan usaha di bidang energi ini akan menurunkan biaya produksi perseroan. Pihaknya menghitung, WMPP akan menghemat 19% hingga 23% dari total konsumsi energi di fasilitas-fasilitas produksi yang dimiliki perseroan.
Adapun untuk tahun ini, WMPP menargetkan peningkatan pendapatan menjadi Rp7,1 triliun, dari Rp6,2 triliun atau meningkat 14% dibanding 2021.
Lalu, pendapatan perseroan diproyeksi sebagian besar akan disumbang oleh pendapatan poultry atau unggas sebesar 45%, cattle atau ternak sebesar 30%, daging sebesar 13%, komoditas ternak 10%, dan sisanya 2% dari konstruksi. Adapun perseroan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp1,2 triliun di tahun ini untuk mendukung pertumbuhan tersebut.
Chief Financial & HCD Officer Widodo Makmur Unggas Wahyu Andi Susilo menambahkan kalau kinerja positif WMUU tidak lepas dari kemampuan perusahaan untuk mengendalikan pos beban, terutama dengan biaya pakan ternak yang meningkat.
“Pengendalian beban ini dapat kami lakukan karena strategi bisnis kami yang berfokus pada downstream di mana proses produksi kami yang paling besar justru terjadi di Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU),” kata Andi.
Untuk RPHU WMUU menghasilkan sejumlah produk konsumer seperti karkas, boneless chicken, dan karkas ayam.
Serta bersama dengan induk usaha PT Widodo Makmur Perkasa Tbk juga terus melakukan riset dan pengembangan beberapa bahan baku pakan ayam alternatif yang jumlah komoditasnya cukup banyak di Indonesia.
“Bersama grup, kami juga dalam tahap pengembangan lahan jagung untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku pakan internal,” bebernya.
Diketahui, WMUU menargetkan pertumbuhan dan laba bersih mencapai 25%. Andi mengatakan angka pertumbuhan ini cukup konservatif dan didasari oleh strategi perusahaan untuk mengoperasikan RPHU baru di Jawa Barat tahun ini.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.