Share

Ternyata Kenaikan Harga BBM Gegara Kilang Minyak Krisis

Agregasi VOA, Jurnalis · Kamis 23 Juni 2022 10:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 320 2616583 ternyata-kenaikan-harga-bbm-melambung-gegara-kilang-minyak-krisis-FGwNLvhnv5.jpg Kilang Minyak Krisis. (Foto: okezone.com/reuters)

JAKARTA - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus dilakukan penyesuaian. Harga BBM sebetulnya sudah mulai merangkak naik sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.

Namun sejak pertengahan Maret, biaya BBM meroket, sementara harga minyak mentah hanya naik sedikit. Sebagian besar alasannya adalah kurangnya kapasitas kilang yang memadai untuk memproses minyak mentah menjadi bensin dan solar untuk memenuhi permintaan global yang tinggi.

Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan secara keseluruhan dunia memiliki kapasitas kilang yang cukup untuk mengolah sekitar 100 juta barel minyak per hari. Namun, sekitar 20% dari kapasitas itu tidak dapat digunakan.

Sebagian besar dari kapasitas yang tidak dapat digunakan ada di Amerika Latin dan tempat-tempat lain yang kekurangan investasi sehingga menyisakan sekitar 82-83 juta barel per hari dalam kapasitas yang diproyeksikan.

Baca Juga: Harga Minyak Turun 3% Khawatir Ekonomi AS Resesi

Industri pengilangan memperkirakan dunia kehilangan total 3,3 juta barel kapasitas penyulingan harian sejak awal 2020. Sekitar sepertiga dari kerugian ini terjadi di Amerika Serikat (AS), dengan sisanya di Rusia, China, dan Eropa.

Permintaan BBM turun di awal pandemi ketika adanya lockdown akibat COVID dan menjamurnya sistem pekerjaan jarak jauh. Sebelum itu, kapasitas kilang tidak pernah menurun setidaknya dalam tiga dekade. Demikian dilansir dari VOA Indonesia, Kamis (23/6/2022). 

Pada April, sebanyak 78 juta barel minyak mentah diproses setiap hari, turun tajam dari rata-rata pra-pandemi sebesar 82,1 juta barel per hari. IEA mengharapkan bisnis kilang akan kembali membaik selama musim panas menjadi 81,9 juta barel per hari karena kilang-kilang China kembali beroperasi.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik Tipis Dibanderol USD122/Barel

AS, China, Rusia, dan Eropa semuanya mengoperasikan kilang dengan kapasitas lebih rendah daripada sebelum pandemi. Industri pengilangan AS menghentikan produksi hampir satu juta barel per hari sejak 2019 karena berbagai alasan.

Hampir 30% dari kapasitas penyulingan Rusia menganggur pada bulan Mei, sumber mengatakan kepada Reuters. Banyak negara Barat menolak BBM Rusia.

China memiliki kapasitas penyulingan cadangan paling banyak, ekspor produk olahan hanya diperbolehkan di bawah kuota resmi, terutama diberikan kepada perusahaan kilang milik negara yang besar dan bukan kepada perusahaan swasta yang lebih kecil yang memiliki sebagian besar kapasitas cadangan China.

Pada minggu lalu, tingkat pengoperasian di kilang yang didukung negara China rata-rata sekitar 71,3 persen dan kilang swasta sekitar 65,5 persen. Angka itu naik daripada awal tahun, tetapi rendah menurut standar historis.

Selain itu kontribusi lain yang membuat harga BBM naik adalah biaya transportasi untuk membawa produk dengan kapal ke luar negeri telah meningkat karena permintaan global yang tinggi, serta adanya sanksi terhadap kapal Rusia.

Di Eropa, kilang dibatasi oleh harga gas alam yang tinggi, yang menggerakkan operasi mereka. Beberapa kilang juga bergantung pada solar sebagai bahan bakar perantara. Hilangnya solar Rusia telah mencegah kilang tertentu untuk memulai kembali unit yang memproduksi bensin tertentu.

Pemain kilang, terutama yang mengekspor banyak bahan bakar ke negara lain, seperti penyuling AS. Kekurangan BBM global telah mendorong margin kilang ke level tertinggi dalam sejarah, dengan celah kunci 3-2-1 menyebar mendekati USD60 per barel. Itu telah mendorong keuntungan besar bagi perusahaan kilang Valero yang berbasis di AS dan Reliance Industries yang berbasis di India.

India, yang memproses lebih dari 5 juta barel minyak mentah per hari, menurut IEA, telah mengimpor minyak mentah Rusia yang murah untuk keperluan domestik dan ekspor. IEA memperkirakan hal itu akan meningkatkan produksi sebesar 450.000 pada akhir tahun.

Lebih banyak kapasitas kilang yang dijadwalkan untuk beroperasi di Timur Tengah dan Asia untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini