Share

5 Jurus BI Hadapi Risiko Stagflasi Global

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 23 Juni 2022 15:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 320 2616867 5-jurus-bi-hadapi-risiko-stagflasi-global-gNoTlvP1N6.jpg Bank Indonesia Siapkan Strategi Hadapi Ketidakpastian Global. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar sangat perlu diutamakan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Apalagi di tengah naiknya tekanan eksternal terkait dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara.

"Ke depan, ketidakpastian ekonomi global diprakirakan masih akan tinggi seiring dengan makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari makin meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan, yang ditempuh oleh berbagai negara," ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Kamis(23/6/2022).

Baca Juga: Bank Indonesia Tak Ingin Buru-Buru Tingkatkan Suku Bunga Acuan

Merespon kondisi tersebut, BI terus menempuh berbagai langkah penguatan bauran kebijakan. Pertama, memperkuat kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pengendalian inflasi dengan tetap memperhatikan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya.

"Kedua, mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas dengan meningkatkan efektivitas pelaksanaan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) dan Operasi Moneter Rupiah. Yang ketiga, melanjutkan kebijakan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan pendalaman pada komponen Overhead SBDK," tambah Perry.

Baca Juga: BI Yakin RI Bakal Jadi Standar Dunia untuk Urusan Sistem Pembayaran

Kebijakan keempat, melanjutkan masa berlaku kebijakan tarif SKNBI sebesar Rp1 dari Bank Indonesia ke bank dan maksimum Rp2.900 dari bank kepada nasabah, dari semula berakhir 30 Juni 2022 menjadi sampai dengan 31 Desember 2022 guna meningkatkan efisiensi biaya dan aktivitas ekonomi masyarakat serta memudahkan transaksi keuangan dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi.

"Yang kelima, memperkuat kebijakan internasional dengan memperluas kerja sama cross border payment connectivity, fasilitasi penyelenggaraan promosi investasi dan perdagangan di sektor prioritas bekerja sama dengan instansi terkait, serta bersama Kementerian Keuangan menyukseskan 6 (enam) agenda prioritas jalur keuangan Presidensi Indonesia pada G20 tahun 2022," ungkapnya.

Perry mengatakan, BI terus mencermati risiko tekanan inflasi ke depan, termasuk ekspektasi inflasi dan dampaknya terhadap inflasi inti, dan akan menempuh langkah-langkah normalisasi kebijakan moneter lanjutan sesuai dengan data dan kondisi yang berkembang.

"Koordinasi dengan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dan instansi terkait melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPIP dan TPID) makin diperkuat untuk mengelola tekanan inflasi dari sisi suplai dan mendorong produksi. Guna menjaga stabilitas makroekonomi dengan tetap mendukung proses pemulihan ekonomi nasional, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal terus ditingkatkan. Demikian pula, koordinasi di bawah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) serta koordinasi bilateral antara BI dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus diperkuat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini