Share

Utang Garuda Indonesia Berkurang 81%, Segini yang Harus Dibayar ke Kreditur

Suparjo Ramalan, iNews · Selasa 28 Juni 2022 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 28 320 2619634 utang-garuda-indonesia-berkurang-81-segini-yang-harus-dibayar-ke-kreditur-9YONiqJXhc.jpg Garuda Indonesia. (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk mencatatkan pengurangan utang sebesar 81% dari total utang Rp138 triliun.

Pengurangan ini setelah kreditur menyepakati adanya homologasi atau kesepakatan damai dalam Penundaan Pembayaran Kewajiban Utang (PKPU).

Nilai utang Rp138 triliun berasal dari piutang 365 kreditur yang hadir dalam pemungutan suara atau voting terkait persetujuan proposal perdamaian Garuda Indonesia.

 BACA JUGA:Dapat PMN Rp7,5 Triliun, Garuda Indonesia Pakai Perbaikan Pesawat

Namun, headcount atau jumlah suara yang sepakat mencapai 347 kreditur atau setara 95%.

Adapun 347 kreditur ini merepresentasikan piutangnya sebesar Rp122 triliun.

Namun, secara keseluruhan utang Garuda Indonesia yang tercatat dalam Daftar Piutang Tetap (DPT) yang telah diverifikasi Tim Pengurus PKPU mencapai Rp142 triliun.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo atau Tiko menyebut dengan persentase pengurangan utang sebesar 81%, maka kewajiban yang harus dibayarkan Garuda Indonesia hanya mencapai 19% dari total utang.

"Untuk utang ke belakang juga menarik, karena kita mendapatkan pengurangan utang sebesar 81%, jadi utang secara net present value yaitu turun 81% sehingga utang kita tinggal 19%," ungkap Tiko, Selasa (28/6/2022).

"Kalo kita gunakan nominal value turunnya 50%, jadi ini ada dua memang, sebagai contoh utang himbara atau bank kita panjangkan, jadi utang yang sangat panjang. Namun percent value-nya lebih rendah, dan ini dua-duanya silahkan dilihat secara percent value turun 81% kalo nominal 50%," tambahnya.

Dia mencatat Garuda Indonesia telah menyelesaikan dua permasalahannya usai melewati PKPU.

Pertama menyelesaikan penurunan kewajiban utang. Hal ini penting bagi perusahaan karena bisa menurunkan liabilitas agar neraca perusahaan menjadi sehat

Lalu, melakukan negosiasi terkait leasing rate atau harga sewa pesawat.

Tiko memastikan pihaknya mampu mengoptimalkan atau menekan harga sewa pesawat yang digunakan ke depan,

"Jadi kita pahami di masa lalu permasalahan utama Garuda adalah jumlah pesawat yang banyak dan sewa pesawat atau leasing rate yang terlalu mahal, sehingga garuda selama bertahun-tahun sulit mendapatkan profitabilitas, karena pesawat terlalu banyak dan terlalu mahal, termasuk salah satu masalah hukum yg kemarin diumumkan soal ATR dan CJR," jelasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini