Share

5 Daftar Kenaikan Harga di Juli 2022 dari BBM, Cabai hingga Listrik

Feby Novalius, Okezone · Selasa 12 Juli 2022 16:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 12 320 2628266 5-daftar-kenaikan-harga-di-juli-2022-dari-bbm-cabai-hingga-listrik-motFoYg8Iy.jpg Harga Cabai Meroket hingga Rp130 Ribu. (Foto: Okezone.com/MPI)

JAKARTA - Masyarakat dihadapkan dengan beragam kenaikan harga-harga. Mulai dari cabai, bensin sampai tarif listrik.

Kenaikan ini pun menjadi perhatian karena ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang belum selesai. Di sisi lain, faktor global seperti tingginya harga minyak dunia dan perang Rusia-Ukraina turut mempengaruhi kenaikan harga tersebut.

Okezone merangkum beragam kenaikan harga-harga yang terjadi di bulan ini:

1. Harga Cabai Naik Jadi Rp130.000

Kenaikan harga cabai hingga Rp130 ribu per kilogram (Kg) menggerus pendapatan pedagang. Sebab konsumen yang mayoritas emak-emak tidak ada yang membeli kiloan, tapi memilih Rp5 ribu atau goceng.

Seperti di Pasar Mangunjaya, Bekasi. Berdasarkan pantauan MNC Portal Indonesia hari ini, para pembeli yang mayoritas ibu rumah tangga membeli jenis cabai hanya Rp5 ribu.

Baca Juga: Harga Pertalite Sekarang Bukan Sebenarnya, Jangan Kaget Bila Nanti Naik!

"Bang beli cabai rawit, goceng aja," begitu ucapan para pembeli setiap datang ke lapak Maman yang merupakan pedagang di Pasar Mangunjaya.

2. Harga BBM Naik

PT Pertamina (Persero) kembali menaikkan harga tiga jenis produk Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi. Harga BBM yang naik adalah Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex.

- Pertamax Turbo (RON 98) naik dari semula Rp14.500 per liter menjadi Rp16.200 per liter

- Dexlite naik dari semula Rp12.950 per liter menjadi Rp15.000 per liter

Baca Juga: Daftar dan Jenis Mobil yang Boleh Beli Pertalite dan Solar

- Pertamina Dex naik dari Rp13.700 per liter menjadi Rp16.500

3. Harga Gas Elpiji Naik

PT Pertamina (Persero) mengumumkan kenaikan harga LPG nonsubsidi mulai hari ini.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting mengatakan bahwa penyesuaian harga tersebut tidak berlaku untuk LPG subsidi 3 kg. Menurutnya, untuk LPG nonsubsidi seperti Bright Gas akan disesuaikan sekitar Rp2.000 per kg.

a. Bright Gas 5,5 kg

Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung : Rp104.000

- Bangka Belitung : Rp107.000

- Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat : Rp100.000

- Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur : Rp107.000

- Kalimantan Utara : Rp117.000

- Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah : Rp104.000

- Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara : Rp107.000

- Maluku : Rp127.000

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

b. Elpiji 12 Kg

- Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumater Selatan, Bengkulu, Lampung : Rp215.000

- Bangka Belitung : Rp223.000

- Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat : Rp213.000

- Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur : Rp223.000

- Kalimantan Utara : Rp250.000

- Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah : Rp215.000

- Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara : Rp223.000

- Maluku : Rp270.000

4. Tarif Listrik Naik

Tarif listrik golongan rumah tangga non subsidi naik. Di antaranya golongan 3.500 VA ke atas.

Daftar Tarif Listrik Terbaru

- R2: 3.500 VA - 5.500 VA: Rp 1.699,53 per kWh

- R3: 6.600 VA ke atas: Rp 1.699,53 per kWh

- P1: 6.600 VA - 200 KVA: Rp 1.699,53 per kWh

- P2: 200 KVA ke atas: 1.522,88 per kWh

- P.3/TR : 16.99,53 per kWh

5. Harga Tiket Pesawat Naik

President Director of Lion Air Group, Daniel Putut Kuncoro Adi menyatakan bahwa mahalnya biaya perawatan pesawat serta tingginya harga avtur. Hal itu yang akhirnya mendorong harga tiket pesawat menjadi tinggi.

"Komponen yang harus kita bayar atau material, sparepart, termasuk transportasi dan logistiknya itu sangat mahal sekali karena kita harus bayar dengan mata uang USD," ungkapnya.

Dia menyampaikan beberapa vendor atau penyedia material dan bahan untuk perawatan pesawat udara banyak yang tutup, sehingga hukum pasar berlaku bahwa mereka menjual alat-alat menjadi lebih tinggi.

"PM 20 Tahun 2019 dikeluarkan pada saat sebelum pandemi Covid-19 sehingga banyak sekali revisi atau paling tidak review yang harus dilakukan, paling tidak cost operasional pesawat bisa kita reduce," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini