Share

Jika Kuota Pertalite Jebol, Subsidi BBM Bakal Tembus Rp600 Triliun

Rizky Fauzan, MNC Portal · Sabtu 13 Agustus 2022 15:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 13 320 2647214 jika-kuota-pertalite-jebol-subsidi-bbm-bakal-tembus-rp600-triliun-ne0E19jcMR.jpg Kuota Pertalite Kian Menipis. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA - Pemerintah harus mencari cara menjaga kuota BBM subsidi tidak jebol. Hal ini supaya subsidi BBM tidak mengalami pembengkakan hingga Rp600 triliun.

Sampai Juli 2022, Pertamina melaporkan konsumsi bahan bakar minyak jenis Pertalite telah menembus angka 16,8 juta kiloliter atau setara dengan 73,04% dari total kuota yang ditetapkan tahun ini sebesar 23 juta kiloliter. Angka konsumsi yang tinggi itu membuat kuota Pertalite hanya tersisa 6,2 juta kiloliter.

Ekonom Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan, jika upaya pembatasan konsumsi Pertalite tidak berhasil, maka kuota BBM subsidi diproyeksikan jebol paling lama pada akhir Oktober 2022.

Baca Juga: Harga Pertalite Diusulkan Naik dan Pertamax Diturunkan

Kondisi itu menimbulkan dilema bagi pemerintah yang dalam hal ini adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai bendahara negara, karena jika kuota Pertalite ditambah akan meningkatkan beban APBN untuk subsidi menjadi lebih dari Rp600 triliun.

"Namun, jika kuota Pertalite tidak ditambah bisa memicu kelangkaan BBM di berbagai SPBU yang berpotensi menyulut keresahan sosial," ujarnya, Sabtu (13/8/2022).

Menurutnya, selain memperkecil disparitas harga antara Pertalite dan Pertamax, pemerintah harus menetapkan segera Peraturan Presiden yang menegaskan bahwa Pertalite dan Solar hanya untuk sepeda motor dan kendaraan angkutan orang serta angkutan barang untuk mencegah kuota BBM bersubsidi agar tak jebol.

Baca Juga: Subdisi Energi Membengkak, Motor Jenis Ini Dilarang Beli Bensin Pertalite

Menurutnya, pembatasan yang tegas dan lugas dapat mencegah jebolnya kuota BBM subsidi tersebut.

Fahmy menilai platform MyPertamina tidak akan berhasil membatasi BBM subsidi agar tepat sasaran, bahkan justru menimbulkan ketidaktepatan sasaran dan ketidakadilan bagi konsumen yang tidak punya akses.

"Untuk mencegah jebolnya kuota BBM bersubsidi tidak bisa hanya dengan mengeluh dan mengimbau saja. Namun, perlu kebijakan tegas dan lugas yang segera diberlakukan," pungkasnya.

Selain itu, dirinya mengusulkan supaya harga Pertalite naik dan menurunkan harga Pertamax. Hal ini untuk mempersempit disparitas harga antara kedua jenis BBM tersebut.

"Dengan menaikkan harga Pertalite dan menurunkan harga Pertamax secara bersamaan maksimal selisih harga sebesar Rp1.500 per liter. Kebijakan harga ini diharapkan akan mendorong konsumen Pertalite migrasi ke Pertamax secara suka rela," ujarnya.

Komunikasi publik secara masif juga perlu dilakukan mengenai penggunaan Pertamax yang lebih bagus untuk mesin kendaraan dan lebih irit supaya menarik minat masyarakat untuk beralih dari mengonsumsi Pertalite ke Pertamax.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini