Share

6 Fakta Pertamax dan Pertalite Belum Keekonomian, Jangan Kaget Tahu Harga Aslinya

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Sabtu 20 Agustus 2022 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 19 320 2651041 6-fakta-pertamax-dan-pertalite-belum-keekonomian-jangan-kaget-tahu-harga-aslinya-qShRxdJRrb.jpg BBM Pertamina (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pada tahun ini pemerintah menyiapkan anggaran subsidi untuk energi mencapai Rp502,4 triliun.

Berikut fakta pertamax dan pertalite belum keekonomian yang dirangkum Okezone, Sabtu (20/8/2022).

1. Masih Terjangkau

Subsidi ini diberikan agar BBM seperti Pertalite dan Pertamax masih bisa terjangkau harganya di masyarakat.

2. Jauh dari Harga Keekonomian

Namun, harga kedua jenis BBM itu justru jauh dari harga keekonomian.

"Kita lihat harga keekonomian Pertamax Rp15.150 per liter. Namun kita masih memberikan harga eceran Rp12.500 per liter. Demikian juga Pertalite, harga keekonomiannya Rp13.150 per liter, ecerannya masih Rp7.650 per liter," ujar Airlangga dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2023.

3. Bandingkan Negara Lain

Airlangga pun membandingkan harga BBM Pertalite dan Pertamax di Indonesia yang masih jauh dibanding negara-negara lain.

Baca Juga: KKP Selamatkan Kerugian Negara Sebesar Rp30 Miliar dari Tindak Penyelundupan BBL

4. Indonesia Masih Murah

Dia menyebut bahwa harga BBM Indonesia masih lebih murah.

"Misalnya saja Thailand yang menjual BBM dengan harga Rp19.500 per liter. Kemudian Vietnam Rp16.645 per liter dan Philipina mencapai Rp21.352 per liter. Kita masih relatif di bawah Asean," terangnya.

5. Alasan Subsidi BBM

Dia pun menambahkan, subsidi BBM ini dijaga agar tidak menimbulkan laju inflasi tinggi seperti yang sekarang terjadi di banyak negara.

6. Pengendalian Inflasi

Untuk itu, pemerintah terus mengerahkan tim pengendalian inflasi pusat dan daerah untuk mendorong agar program kebijakan terkait keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi juga komunikasi secara efektif dengan masyarakat.

"Sehingga tentu tantangan hyperinflation (Hiperinflasi) kelihatannya bisa kita tangani di tahun ini. Demikian pula di tahun depan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini