Share

Harga Minyak Dunia Anjlok Imbas Kebijakan Pengetatan di China

Dinar Fitra Maghiszha, MNC Portal · Senin 07 November 2022 10:38 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 07 320 2702257 harga-minyak-dunia-anjlok-imbas-kebijakan-pengetatan-di-china-suxJYGdT0r.jpg Harga Minyak Dunia (Foto: Reuters)

JAKARTA - Harga minyak mentah menurun lebih dari 1 dolar per hari setelah otoritas China pada akhir pekan lalu menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kebijakan pengetatan mobilitas untuk menahan laju Covid-19.

Langkah ini membebani permintaan bahan bakar di China, yang notabene merupakan salah satu importir minyak terbesar dunia. Data perdagangan hingga pukul 10:04 WIB menunjukkan minyak Brent di Intercontinental Exchange (ICE) untuk kontrak Januari 2023 anjlok 1,17% di USD97,42 per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk pengiriman Januari turun 1,38% sebesar USD90,19 per barel.

"Harga minyak turun tajam karena pejabat China berjanji untuk tetap berpegang pada kebijakan nol COVID sementara kasus yang terinfeksi naik di China, yang dapat menyebabkan lebih banyak pembatasan, dan menggelapkan prospek permintaan," kata analis CMC Markets Tina Teng, dilansir Reuters, Senin (7/11/2022).

Selain China, Tina mengamati lonjakan dolar AS juga membebani harga minyak. Diketahui pada Jumat pekan lalu, para pejabat bank sentral Amerika Serikat / Federal Reserve dalam pernyataannya mengindikasikan akan mempertimbangkan kembali kenaikan suku bunga mereka pada pertemuan selanjutnya.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Sebelumnya Brent dan WTI menguat pada minggu lalu, masing-masing naik 2,9% dan 5,4%, karena desas-desus tentang kemungkinan berakhirnya lockdown Covid yang ketat, yang pada akhirnya mendongkrak bursa saham dan harga komoditas China.

Namun, pada konferensi pers Sabtu kemarin (5/11/2022) pejabat kesehatan China mengatakan mereka akan bertahan dengan pendekatan antisipatif terkait kasus baru.

Data perdagangan China pada Senin (7/11) dapat menunjukkan penurunan lebih lanjut terhadap ekspor karena permintaan global terus melemah.

"Pasar masih menghadapi tanda-tanda melemahnya permintaan minyak dari harga yang sudah tinggi dan latar belakang ekonomi yang lemah di sejumlah pasar negara maju," kata analis ANZ dalam sebuah catatan, menambahkan permintaan di Eropa dan Amerika Serikat telah turun kembali ke level tahun 2019.

Satu hal yang mengimbangi penurunan harga datang dari ekspektasi pasokan yang lebih ketat karena embargo Uni Eropa terhadap ekspor minyak mentah Rusia akan mulai berlaku pada 5 Desember, sementara kilang di seluruh dunia telah beranjak untuk meningkatkan produksi mereka demi mengantisipasi kelangkaan pasokan.

Seperti misalnya, pabrik penyulingan minyak di AS pada kuartal ini telah menjalankan pabrik mereka pada kapasitas yang cukup tinggi di atas 90% dari total kapasitas, sementara pengilangan swasta terbesar di China, Zhejiang Petroleum and Chemical Co (ZPC) dikabarkan juga meningkatkan produksi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini