Share

Cerita Wanita Asal Banyuwangi, dari Tukang Gosok WC hingga Jadi Buruh Pabrik Bergaji Rp46 Juta

Noviana Zahra Firdausi, Okezone · Kamis 17 November 2022 15:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 17 622 2709476 cerita-wanita-asal-banyuwangi-dari-tukang-gosok-wc-hingga-jadi-buruh-pabrik-bergaji-rp46-juta-qp6PezWx8V.jpg Kisah WNI Kerja di Swedia. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA – Seorang wanita, Mita asal Banyuwangi membagikan kisah dan pengalaman saat bekerja sebagai buruh pabrik di Swedia. Di sana dirinya diberi gaji Rp46 juta per bulan.

Pada awal 2020, dirinya pertama kali bekerja sebagai cleaning service di tempat suaminya bekerja, sebuah pabrik dan tempat pemadam kebakaran.

Baca Juga: 3 Wanita Indonesia Masuk Daftar Pebisnis Paling Berpengaruh di Asia 2022, Ini Profilnya

“Januari atau Februari abis aku ulang tahun, itu aku kerja bersih-bersih di tempat kerjanya suamiku itu seminggu 2 kali. Cuman Selasa sama hari Kamis. Jadi total seminggu kerja cuman 8 jam,” jelas Mita melalui video dari akun Youtube miliknya, Kamis (17/11/2022).

Sebulan bekerja menjadi cleaning service di Swedia, Mita mendapatkan gaji 6000kr atau setara dengan Rp8,9 juta, tergantung krona naik atau turun. Namun, ternyata Mita tidak lama bekerja di tempat itu, hanya sekitar 2 bulan karena hamil lalu keguguran.

Baca Juga: Kisah Sukses Boy Thohir, dari Bisnis Properti-Batu Bara hingga Jadi Orang Terkaya RI

Dirinya pun memutuskan istirahat beberapa bulan dari pekerjaannya. Dan kini, Mita mengambil lagi panggilan kerja yang didapatkannya yaitu sebagai buruh pabrik.

Pekerjaannya ini dilakukan per jam dengan bayaran sekitar 130kr atau setara Rp194 ribu per jam.

Lalu di Desember, dirinya mendapat kontrakan dengan masa percobaan kerja yang telah dia jalani. Sedangkan untuk gajinya yaitu 22000kr atau sekitar Rp32,8 juta per bulan sudah dengan potongan pajak sebesar 6000kr atau Rp8,9 juta.

Sementara sekarang ini, gaji full timenya bekerja sebagai buruh pabrik yaitu sebesar 28000kr atau sekitar Rp46 juta per bulan. Akan tetapi, gaji tersebut belum dipotong pajak yang mana perlu diketahui pajak di Swedia sendiri cukup mahal.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Mita juga menambahkan bahwa biaya hidup di Swedia mahal, jadi seimbang dengan gaji yang didapatkannya.

“Terus biaya hidup di sini juga mahal guys, sama saja gajinya banyak tapi kehidupan di sini juga mahal. Kayak beli beras, cabe itu mahal. Apalagi aku ini kan orang Indonesia, kalau gak makan beras sama cabe itu rasanya, ya ampun lidah ini gabisa makan. Kalo aku cuman makan roti sama keju cepet kaya aku guys, kurus yang ada. Nanti kurus kering aku masuk rumah sakit terus metong akhirnya.” Ucapnya.

Kerjanya itu seminggu 5 kali, mulai dari hari Senin hingga Jumat dengan jam kerja 8 jam dan jumlah istirahatnya 3 kali. Liburnya Sabtu dan Minggu. Jika ada tanggal merah, hari besar, dan tahun baru dirinya juga diliburkan, tambah Mita.

Selain itu, dia mengatakan keuntungan kerja di Swedia yaitu jika sakit tetap akan mendapatkan bayaran.

Mita juga menambahkan bahwa biaya hidup di Swedia mahal, jadi seimbang dengan gaji yang didapatkannya.

“Terus biaya hidup di sini juga mahal guys, sama saja gajinya banyak tapi kehidupan di sini juga mahal. Kayak beli beras, cabe itu mahal. Apalagi aku ini kan orang Indonesia, kalau gak makan beras sama cabe itu rasanya, ya ampun lidah ini gabisa makan. Kalo aku cuman makan roti sama keju cepet kaya aku guys, kurus yang ada. Nanti kurus kering aku masuk rumah sakit terus metong akhirnya.” Ucapnya.

Kerjanya itu seminggu 5 kali, mulai dari hari Senin hingga Jumat dengan jam kerja 8 jam dan jumlah istirahatnya 3 kali. Liburnya Sabtu dan Minggu. Jika ada tanggal merah, hari besar, dan tahun baru dirinya juga diliburkan, tambah Mita.

Selain itu, dia mengatakan keuntungan kerja di Swedia yaitu jika sakit tetap akan mendapatkan bayaran.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini