Share

Menteri ESDM: Biaya Kendaraan Listrik Lebih Murah dari BBM

Suparjo Ramalan, MNC Portal · Minggu 20 November 2022 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 20 320 2711153 menteri-esdm-biaya-kendaraan-listrik-lebih-murah-dari-bbm-cvmNuIG5Dw.jpg Menteri ESDM Arifin Tasrif (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tafsir menyebut penggunaan kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM).

Arifin mencontohkan kendaraan roda dua bisa menghabiskan dana Rp 10.000 untuk satu liter Pertalite dengan jarak 30 kilometer (Km). Sementara, motor listrik hanya membutuhkan daya 1 kilowatt-hour (KWh) dengan biaya Rp 1.600 untuk perjalan sepanjang 30 Km.

"Dari hasil konversi motor listrik bagi motor diatas 10 tahun, 30 kilometer itu seliter pertalite Rp 10.000, kalau motor listrik itu cuma perlu 1 KWh, Rp 1.600. Nah kemudian motor ini kan tiap tahun ganti oli dan lain lain, biaya bisa R 2,5 juta sendiri, kalau motor listrik kan nggak perlu ganti oli dan lain-lain," ungkap Arifin, Minggu (20/11/2022).

Menurutnya, pemerintah tengah membidik motor-motor tua atau berusia di atas 5 tahun untuk dikonversikan. Langkah itu sekaligus mengurangi subsidi dan kompensasi BBM.

Selain itu, Arifin memastikan 140 juta kendaraan yang dikonversi ke listrik mampu mengurangi 100 juta ton CO2.

"Yang penting kalau 140 juta unit kendaraan diganti listrik bisa kurangi 100 juta ton CO2. 2060-kan emisi kita bisa nol, kita akan gunakan semua potensi energi baru di Indonesia," ucapnya.

Di lain sisi, pemerintah berencana memberikan insentif berupa subsidi kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle. Subsidi diberikan kepada masyarakat yang melakukan konversi kendaraan BBM ke listrik.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan saat ini pemerintah masih menghitung besaran atau nilai subsidinya. Hitungan itu akan dilihat berdasarkan daya atau tenaga listrik yang digunakan dalam kendaraan tersebut.

"Rencananya kita akan berikan subsidi, kepada yang mau konversi atau yang mau beli motor baru. Besaran lagi dihitung apakah dari CC-nya, kalau ini watt-nya (kilowatt-hour), kita dalami," kata Moeldoko.

Selain nilai subsidi, lanjut mantan Jenderal TNI itu, pemerintah juga masih membahas mekanisme pemberian subsidi. Mekanisme ini terkait dengan waktu subsidi diberikan.

Moeldoko mencontohkan, insentif bisa diberikan pada saat masyarakat membeli kendaraan atau setelah Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) diterbitkan.

"Kedua mekanismenya seperti apa? Seperti misalnya konversi ini kan ada bengkel, ada yang punya motor, dan pemerintah berikan subsidinya gimana? Ini yang mekanisme lagi diatur.

Orang beli motor juga gitu, kapan subsidi diberikan, apakah saat keluar BPKB, apakah saat transaksinya, semua lagi diatur," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini